CAHAYA DZIKIR

Cahaya Cinta


Tinggalkan komentar

** ZIKIR NAFAS **

** ZIKIR NAFAS **
* ZIKIR ALLAH HU – HU ALLAH *
by Ilmu Hakekat Usul Diri
PERGERAKAN ZIKIR ALLAH HU
PERGERAKAN ZIKIR HU ALLAH
 
** ZIKIR NAFAS **
Ilmu Hakekat Usul Diri
Cara berzikir HU ALLAH hendaklah kita mulai dengan lafaz HU dari pusat kita, tarik nafas keatas hingga ke kepala tengadahkan kepala ke langit-langit kemudian hembuskan kuat dgn lafaz ALLAH dengan tenaga kearah pusat dan biarkan menular ke jantung, sebut kalimah HU ALLAH dengan jelas, perlahan (jangan cepat) serta ikuti mahrajnya dgn betul, selama melafazkan HU hendaklah panjang 2 Alif (4 harakat) dan hembuskan dengan lafaz ALLAH pun dengan panjang yang sama, saat sampai di pusat tahan nafas sehingga dapat menyebut seberapa banyak HU ALLAH didalam satu nafas. Pada awal permulaan zikir hendaklah dibuat secara nyaring di mulut tetapi kemudian diperlahankan secara beransur-ansur sehingga tertutup mulut (tidak kedengaran dilafazkan di mulut) dan berzikirlah HU ALLAH didalam hati saja, berzikir sebanyak yang kita mampu dan buat secara istiqomah.
Cara zikir ALLAH HU dimulai dengan lafaz ALLAH dengan panjang 2 Alif (4 harakat) dari pusat naik ke kepala, tengadahkan kepala ke langit-langit, kemudian lafazkan HU dengan bertenaga hembuskan ke pusat hingga terasa mengalir di jantung kita, saat sampai kepusat tahan nafas hingga kita dapat menyebut ALLAH HU seberapa kali dalam satu nafas. Cara buat sama dengan yang diatas.


Tinggalkan komentar

KULIAH DZIKIR DARI IBNU ATHA’ILLAH (1)

Dzikir adalah melepaskan diri dari kelalaian dengan selalu menghadirkan kalbu bersama al-Haqq (Allah). Pendapat lain mengatakan bahwa dzikir adalah mengulang-ulang nama Allah dalam hati maupun melalui lisan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan mengingat lafal jalalah (Allah), sifat-Nya, hukum-Nya, perbuatan-Nya atau suatu tindakan yang serupa. Dzikir bisa pula berupa doa, mengingat para rasul-Nya, nabi-Nya,wali-Nya, dan orang-orang yang memiliki kedekatan dengan-Nya, serta bisa pula berupa takarub kepada-Nya melalui sarana dan perbuatan tertentu seperti membaca, mengingat, bersyair, menyanyi, ceramah, dan bercerita.

Maka, dengan pemahaman seperti ini, mereka yang berbicara tentang kebenaran Allah, atau yang merenungkan keagungan, kemuliaan, dan tanda-tanda kekuasaan-Nya di langit dan di bumi, atau yang mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya sesungguhnya—dengan berbuat demikian—mereka sedang melakukan dzikir. Dzikir bisa dilakukan dengan lisan, kalbu, anggota badan, ataupun dengan ucapan yang terdengar orang. Orang yang berdzikir dengan menggabungkan semua unsur tersebut berarti telah melakukan dzikir secara sempurna.
—Ibnu Atha’illah dalam Miftah al-Falah wa Misbah al-Arwah


Tinggalkan komentar

APA MASIH PERLU MUDIK LEBARAN?

Salik dan Matin merayakan hari raya idul fitri di bawah pohon trembesi (sor baujan) dengan suasana hening. Tahun ini, keduanya tak dapat MUDIK atau balik kampung untuk berkumpul bersama keluarga.
Salik (S): Kenapa kau tak balik kampung? Ikut mudik seperti yang lain?
Matin (M): Tiap hari saya berharap dapat balik ke kampung, tapi Allah belum izinkan.
S: Hmmm..Jangan terlalu lebay (berlebihan), Bro!
M: Benar! Tiap hari saya ingin balik ke desa tercinta, tiap saat saya berdoa untuk itu.
S: Huh!!! Bilang saja tak punya uang!
M: Hahaha. Kau pun, kenapa tak balik kampung?
S: Jujur saja, kalau aku karena tak punya uang.
M: Ini baru jawaban jujur. Hehehe. Kasihan sekali. Selama ini memang kau tak cari uang?
S: Aku cari uanglah. Tapi, uangku habis menjelang lebaran.
M: Ohhh, kasihan sekali! Hehehe
S: Hehehe. Mari menertawakan diri sendiri. Mari kita mengakui kekalahan kita. Kita kalah bertarung hidup di Jakarta. Lihat, jutaan warga Jakarta dari semua kelas sosial berhasil pulang ke kampung halaman, sementara kita disini kesepian.
M: Hehehe.
S: Sebenarnya, mengapa mereka sampai rela berdesak-desakan naik bus, kereta api, pakai motor dari Jakarta ke Surabaya, Semarang, Jogja? Apa yang mereka cari?
M: Mereka ingin silaturahmi, bertemu keluarga, berbagi karunia Allah, saling memaafkan.
S: Huh. Kalau silaturahmi, mereka bisa pakai telpon, SMS, BBM, WatchApp, or facebook. Mengapa harus menyengsarakan diri sendiri? Terkena macet puluhan jam, panas terik perjalanan, menghambur-hamburkan uang saja.
M: Hahaha. Iri tanda tak mampu!
S: Bukan begitu. Sampai kapan tradisi semacam ini menyekik leher mereka?! Bagi masyarakat urban, tradisi semacam ini sudah nggak penting. Tak perlu mereka menantang maut, membahayakan diri sendiri, naik atap kereta api, naik motor dengan jarak jauh atau naik mobil truk untuk balik kampung.
M: Hmmm.
S: Memangnya, silaturahmi harus bertemu? Jarak jauh pun bisa saling komunikasi. Saling memaafkan pun bisa dilakukan kapan saja.
M: Tapi, rasanya tetap beda. Kau suka makan ketupat lebaran dengan opor ayam?
S: Suka dong.
M: Kau pernah merasakan bedanya bukan antara opor lebaran dan opor bukan di hari lebaran?
S: Hehehe. Suasananya yang berbeda.
M: Nah, itu kau mengakui. Tradisi ini sangat baik untuk dipertahankan. Makna Idul Fitri, bukan hanya sekadar makan opor ayam dan bertemu dengan orangtua dan keluarga. Bayangkan, selama setahun mereka berjuang untuk mencari nafkah di daerah yang jauh dari kampung halaman, jauh dari orangtua, adik-kakak, teman dan tetangga. Ada kerinduan dalam batin mereka untuk melongok masa lalu, menikmati romantisme masa kecil, berbagi rezeki dengan saudara, memikirkan nasib orang tercinta yang selama ini ditinggalkan.
S: Hmmm. Tapi kan bisa kapan saja, bulan dan hari yang lain bisa mereka lakukan?
M: Setelah sebulan berpuasa, mengekang hawa nafsu, syahwat, tidak makan dan minum, lalu menyucikan jalan sosialnya dengan zakat dan sedekah, tak ada salahnya mereka merayakan karunia Allah bersama keluarga. Idul Fitri bisa dimaknai sebagai hari untuk menyucikan jiwa dan raga, sebagai re-fresh bagi kaum Muslimin untuk menghadapi hari sesudahnya, membawa pesan Ramadhan pada bulan-bulan selanjutnya.
S: Lalu, apa maksud fitrah pada Idul Fitri? Apa ada dasarnya dalam Al-Quran dan Hadis, apakah pernah dicontohkan Rasul bagaimana merayakan Idul Fitri?
M: Ini adalah konsep kembali kepada fitrah, kembali kepada kesucian, kembali kepada tujuan asal, kembali kepada negeri yang membuat mereka bermimpi tentang masa depan. Kita dituntut untuk selalu mengingat tujuan ibadah, tujuan penciptaan manusia, dan tujuan untuk tetap di jalan kesucian. Allah dan Rasulnya sampai mengharamkan makan di hari raya ini! Rasul menyuruh kita “berpesta.” Ini bukan “pesta” yang berarti hura-hura, tapi penyadaran jiwa kepada Sang Khalik. Dan, dengan kumandang takbir, tasbih dan tahmid di hari Raya diharapkan mampu menghilangkan virus-virus kesombongan, kerakusan, dan keserakahan dalam diri. Agar kita mau mengakui kelemahan dan ketidakberdayaan sebagai hamba sehingga mampu melihat tujuan kita pulang ke Negeri Akhirat.
S: Tapi, apa perlu menghambur-hamburkan uang hanya untuk lebaran?
M: Selain hari raya pun, pasti menghamburkan uang tanpa tujuan itu salah. Namun, harus dilihat makna filosofi di balik itu dong. Bangunan silaturahmi tak cukup hanya dengan telpon dan SMS. Dalam pertemuan, orangtua bisa menasihati anaknya, di antara keluarga bisa saling menasihati, memotivasi, berlomba dalam kebaikan, saling memaafkan, saling membantu sesama. Ini merupakan tradisi luar biasa di Nusantara, yang tak bisa dihentikan.
S: Hmmmm
M: Secara sosial dan ekonomi, kita bisa menyaksikan bagaimana distribusi kesejahteraan dari kota ke kampung/desa dengan angka yang sangat tinggi. Trilyunan rupiah uang masuk ke daerah, desa dan kampung menjelang lebaran. Tak hanya dari kota-kota besar di Indonesia, tapi dari TKI di luar negeri pun jumlahnya sangat besar mengirimkan uang untuk keluarga di daerah. Ini cukup membantu menyelesaikan problem ekonomi daerah, meski bersifat jangka pendek.
S: Sudah cukup! Istrimu masak opor ayam nggak?
M: Hahaha. Saya undang kamu ke rumah saya. Mari makan opor bersama HMK-TBM.
S: Apa itu HMK-TBM?
M: Himpunan Muslim Kere Tak Bisa Mudik (HMK-TBM)

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin,
Salam,

Halim Ambiya


Tinggalkan komentar

Menyambut Bulan Ramadhan

Bulan ramadhan merupakan tamu yang istimewa bagi kita. Tentu kita sebagai tuan rumah harus menyambut kedatangannya dengan suaka cita dan memuliakannya. Bagaimana caranya kita menyambut bulan ramadhan? Berikut adalah kiat-kiat untuk menyambut puasa ramadhan:
1.Niat sungguh-sungguh
Ketika Ramadhan menjelang banyak orang berbondong-bondong pergi ke pasar dan supermarket untuk persiapan berpuasa. Mereka juga mempersiapkan dan merencanakan anggaran pengeluaran anggaran untuk bulan tersebut. Tetapi sedikit dari mereka yang mempersiapkan hati dan niat untuk Ramadhan. Puluhan kali Ramadhan menghampiri seorang muslim tanpa meninggalkan pengaruh positif pada dirinya seakan-akan ibadah Ramadhan hanya sekedar ritual belaka, sekedar ajang untuk menggugurkan kewajiban tanpa menghayati dan meresapi esensi ibadah tersebut, jika Ramadhan berlalu ia kembali kepada kondisinya semula.
Tancapkanlah niat untuk menjadikan Ramadhan kali ini dan selanjutnya sebagai musim untuk menghasilkan berbagai macam kebaikan dan memetik pahala sebanyak-banyaknya. Anggaplah Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terakhir yang kita lalui karena kita tidak bisa menjamin kita akan bertemu Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Tanamkan tekad yang disertai dengan keikhlasan untuk konsisten dalam beramal saleh dan beribadah pada bulan Ramadhan ini. Ingat sabda Rasulullah Saw.: “Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan ikhlas maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.”
2.Persiapan fisik dan jasmani
Menahan diri untuk tikak makan dan minum seharian penuh selama sebulan tentu memerlukan kekuatan fisik yang tidak sedikit, belum lagi kekuatan yang dibutuhkan untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat tarawih dan shalat sunnah lainnya, ditambah kekuatan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an dan beri’tikaf selama sepuluh hari di akhir Ramadhan. Kesemua hal ini menuntut kita selalu dalam kondisi prima sehingga dapat memanfaatkan Ramadhan dengan optimal dan maksimal
3. Merancang agenda kegiatan
Untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadan. Ramadhan sangat singkat. Karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan berharga yang bisa membersihkan diri dan mendekatkan diri kepada Allah.
4. Mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan puasa dan ibadah Ramadhan lainnya.
Wajib bagi setiap mukmin beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadan datang agar puasa kita benar dan diterima oleh Allah. Disamping pengetahuan yang berkenaan dengan puasa, pengetahuan-pengetahuan lain yang berkaitan dengan Ramadhan juga perlu seperti anjuran-anjuran, prioritas-prioritas amal yang harus dilakukan dalam Ramadhan, dan lain-lain agar setiap muslim dapat mengoptimalkan bulan ini sebaik mungkin“Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui,” begitu kata Allah di Al-Qur’an surah Al-Anbiyaa’ ayat 7.
5. Sambut Ramadan dengan tekad meninggalkan dosa dan kebiasaan buruk.
“Setiap manusia adalah pendosa dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat” demikian sabda Rasulullah Saw. seperti yang diwartakan Ahmad dan Ibnu Majah. 
Di antara karunia Allah adalah selalu mengulang-ulang kehadiran momen-momen Ramadhan adalah salah satu dari momen tersebut yang selalu datang setiap tahun. Ketika seorang hamba tenggelam dalam kelalaian karena harta benda, anak istri, dan perhiasan dunia lain yang membuat dia lupa kepada Rabbnya, terbius dengan godaan setan, dan terjatuh ke dalam berbagai macam bentuk maksiat datang bulan Ramadhan untuk mengingatkannya dari kelalaiannya, mengembalikannya kepada Rabbnya, dan mengajaknya kembali memperbaharui taubatnya. Ramadhan adalah bulan yang sangat layak untuk memperbarui taubat; karena di dalamnya dilipatgandakan kebaikan, dihapus dan diampuni dosa, dan diangkat derajat. Jika seorang hamba selalu dituntut untuk bertaubat setiap waktu, maka taubat pada bulan Ramadhan ini lebih dituntut lagi; karena Ramadhan adalah bulan mulia waktu dimana rahmat-rahmat Allah turun ke bumi. Marilah kita bertaubat! Karena tak satu pun dari kita yang bersih dari dosa dan bebas dari maksiat. Pintu taubat selalu terbuka dan Allah senang dan gembira dengan taubat hambanya. Taubat yang sungguh-sungguh atau taubat nasuha adalah dengan meninggalkan maksiat yang dilakukan, menyesali apa yang telah dilakukan, dan berjanji untuk tidak kembali mengulangi maksiat tersebut, dan jika dosa yang dilakukannya berkaitan dengan hak orang lain hendaknya meminta maaf dan kerelaan dari orang tersebut.


Tinggalkan komentar

PENTING NYA BERWUDHU

Memang ini kedengarannya sepele.Tapi jangan anggap enteng soal ini, pasalnya nabi senantiasa wudhu sebelu tidur.berwudhu,disamping bernilai ibadah juga bermanfaat besar bagi kesehatan.

Peneliti dari Universitas Alexsandria ,dr musthafa syahatah, yang sekaligus menjabat sebagai Dekan Fakultas THT, menyebutkan bahwa jumlah kuman pada orang yang berwudhu lebih sedikit dibanding orang yang tidak berwudhu.

Dengan ber-istisnaq (menghirup air dalam hidung) misalnya kita dapat mencegah timbulnya penyakit dalam hidung. Dengan mencuci kedua tangan ,kita dapat menjaga kebersihan tangan. Kita juga bisa menjaga kebersihan kulit wajah bila kita rajin berwudhu. Selain itu, kita juga bisa menjaga kebersihan daun telinga dan telapak kaki kita, artinya dengan sering berwudhu kita dapat menjaga kesehatan tubuh kita.

Lalu ,bagaimana jika berwudhu dilakukan sebelum tidur ? Nah, para pakar kesehatan di dunia senantiasa menganjurkan agar kita mencuci kaki mulut dan muka sebelum tidur. Bahkan ,sejumlah pakar kecantikan memproduki alat kecantikan agar dapat menjaga kesehatan kulit muka.

Di samping itu tentunya anjuran untuk berwudhu juga mengandung nilai ibadah yang tinggi. Sebab ketika seseorang dalam keadaan suci. Jika seseorang berada dalam keadaan suci, berarti ai dekat dengan Allah. Karena Allah akan dekat dan cinta kepada orang-orang yang berada dalam keadaan suci.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa tidur dimalam hari dalam keadaan suci (berwudhu’) maka Malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya Malaikat itu akan berucap ‘Ya Allah ampunilah hamba mu si fulan, kerana ia tidur di malam hari dalam keadaan selalu suci’”. (HR Ibnu Hibban dari Ibnu Umar r.a.)

Hal ini juga ditulis dalam kitab tanqih al-Qawl al-Hatsis karangan syekh Muhamad bin Umar an-Nawawi al-Bantany. Dari Umar bin Harits bahwa Nabi bersabda :“Barangsiapa tidur dalam keadaan berwudhu , maka apabila mati disaat tidur maka matinya dalam keadaan syahid disisi Allah.

Maksudnya orang yang berwudhu sebelum tidur akan memperoleh posisi yang tinggi disisi Allah.

Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa berwudhu sebelu tidur merupakan anjuran nabi yang harus dikerjakan bila seseorang ingin memperoleh kemuliaan disisi Allah.

Manfaat Wudhu Sebelum Tidur

Pertama, merilekskan otot-otot sebelum beristirahat. Mungkin tidak terlalu banyak penjelasan. Bisa dibuktikan dalam ilmu kedokteran bahwa percikan air yang dikarenakan umat muslim melakukan wudhu itu merupakan suatu metode atau cara mengendorkan otot-otot yang kaku karna lelahnya dalam beraktifitas. Sangat diambil dampak positifnya bahwa jika seseorang itu telah melakukan wudhu, maka pikiran kita akan terasa rileks. Badan tidak akan terasa capek.
Kedua, mencerahkan kulit wajah.

Kedua, Wudhu dapat mencerahkan kulit wajah karena kinerja wudhu ini menghilangkan noda yang membandel dalam kulit. Kotoran-kotoran yang menempel pada kulit wajah kita akan senantiasa hilang dan tentunya wajah kita menjadi cerah dan bersih.

Ketiga, didoakan malaikat. Dalam sabda Beliau yang disinggung pada bagian atas, malaikat akan senantiasa memberikan do’a perlindungan kepada umat muslim yang senantiasa wudhu sebelum tidur. Padahal malaikat adalah makhluk yang senantiasa berdzikir kepada Allah. niscaya do’anya akan senantiasa dikabulkan pula oleh Allah. Oleh karena itu, senantiasa berwudhu itu adalah hal yang wajib kita lakukan.

Fenomena Meninggal Dunia Saat Tidur Dalam Sunnah

Jauh-jauh hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah memberikan bimbingan dalam tidur agar tidak menimbulkan bahaya, di antaranya tidur sambil miring ke kanan, tidak tidur sambil tengkurap.

Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, Pernah suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati seseorang yang tidur tengkurap di atas perutnya, lalu beliau menendangnya dengan kakinya seraya bersabda, “Sesungguhnya (posisi tidur tengkurap) itu adalah posisi tidur yang tidak disukai Allah Azza Wa Jalla.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).

Sesungguhnya sebab kematian itu bermacam-macam, namun kematian tetaplah satu. Selain Sleep Apnea masih ada sebab lainnya yang menjadi media datangnya kematian. Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan tips terbaik bagi umatnya dalam menghadapi kematian yang datangnya tak terduga ini.

Disebutkan dalam Shahihain, dari sabahat al-Bara’ bin Azib radliyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepadanya; “Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan shalat.” (HR. Bukahri dan Muslim).

Dalam menjelaskan faidah dari perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini, Al-Hafidz Ibnul Hajar menyebutkan hikmahnya, di antaranya yaitu: Agar dia tidur pada malam itu dalam keadaan suci supaya ketika kematian menjemputnya dia dalam keadaan yang sempurna. Dari sini diambil kesimpulan dianjurkannya untuk bersiap diri untuk menghadapi kematian dengan menjaga kebersihan (kesucian) hati karena kesucian hati jauh lebih penting daripada kesucian badan.

Imam al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan tiga hikmah berwudlu sebelum tidur (yang maksudnya tidur dalam keadaan suci). Salah satunya adalah khawatir kalau dia meninggal pada malam tersebut.

Abdul Razak mengeluarkan sebuah atsar dari Mujahid dengan sanad yang kuat, Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma berkata,
“Janganlah engkau tidur kecuali dalam kondisi berwudlu (suci), karena arwah akan dibangkitkan sesuai dengan kondisi saat dia dicabut.”

Nah ! Ayo berwudlu !

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.