CAHAYA DZIKIR

Cahaya Cinta


Tinggalkan komentar

** ZIKIR NAFAS **

** ZIKIR NAFAS **
* ZIKIR ALLAH HU – HU ALLAH *
by Ilmu Hakekat Usul Diri
PERGERAKAN ZIKIR ALLAH HU
PERGERAKAN ZIKIR HU ALLAH
 
** ZIKIR NAFAS **
Ilmu Hakekat Usul Diri
Cara berzikir HU ALLAH hendaklah kita mulai dengan lafaz HU dari pusat kita, tarik nafas keatas hingga ke kepala tengadahkan kepala ke langit-langit kemudian hembuskan kuat dgn lafaz ALLAH dengan tenaga kearah pusat dan biarkan menular ke jantung, sebut kalimah HU ALLAH dengan jelas, perlahan (jangan cepat) serta ikuti mahrajnya dgn betul, selama melafazkan HU hendaklah panjang 2 Alif (4 harakat) dan hembuskan dengan lafaz ALLAH pun dengan panjang yang sama, saat sampai di pusat tahan nafas sehingga dapat menyebut seberapa banyak HU ALLAH didalam satu nafas. Pada awal permulaan zikir hendaklah dibuat secara nyaring di mulut tetapi kemudian diperlahankan secara beransur-ansur sehingga tertutup mulut (tidak kedengaran dilafazkan di mulut) dan berzikirlah HU ALLAH didalam hati saja, berzikir sebanyak yang kita mampu dan buat secara istiqomah.
Cara zikir ALLAH HU dimulai dengan lafaz ALLAH dengan panjang 2 Alif (4 harakat) dari pusat naik ke kepala, tengadahkan kepala ke langit-langit, kemudian lafazkan HU dengan bertenaga hembuskan ke pusat hingga terasa mengalir di jantung kita, saat sampai kepusat tahan nafas hingga kita dapat menyebut ALLAH HU seberapa kali dalam satu nafas. Cara buat sama dengan yang diatas.


Tinggalkan komentar

APA MASIH PERLU MUDIK LEBARAN?

Salik dan Matin merayakan hari raya idul fitri di bawah pohon trembesi (sor baujan) dengan suasana hening. Tahun ini, keduanya tak dapat MUDIK atau balik kampung untuk berkumpul bersama keluarga.
Salik (S): Kenapa kau tak balik kampung? Ikut mudik seperti yang lain?
Matin (M): Tiap hari saya berharap dapat balik ke kampung, tapi Allah belum izinkan.
S: Hmmm..Jangan terlalu lebay (berlebihan), Bro!
M: Benar! Tiap hari saya ingin balik ke desa tercinta, tiap saat saya berdoa untuk itu.
S: Huh!!! Bilang saja tak punya uang!
M: Hahaha. Kau pun, kenapa tak balik kampung?
S: Jujur saja, kalau aku karena tak punya uang.
M: Ini baru jawaban jujur. Hehehe. Kasihan sekali. Selama ini memang kau tak cari uang?
S: Aku cari uanglah. Tapi, uangku habis menjelang lebaran.
M: Ohhh, kasihan sekali! Hehehe
S: Hehehe. Mari menertawakan diri sendiri. Mari kita mengakui kekalahan kita. Kita kalah bertarung hidup di Jakarta. Lihat, jutaan warga Jakarta dari semua kelas sosial berhasil pulang ke kampung halaman, sementara kita disini kesepian.
M: Hehehe.
S: Sebenarnya, mengapa mereka sampai rela berdesak-desakan naik bus, kereta api, pakai motor dari Jakarta ke Surabaya, Semarang, Jogja? Apa yang mereka cari?
M: Mereka ingin silaturahmi, bertemu keluarga, berbagi karunia Allah, saling memaafkan.
S: Huh. Kalau silaturahmi, mereka bisa pakai telpon, SMS, BBM, WatchApp, or facebook. Mengapa harus menyengsarakan diri sendiri? Terkena macet puluhan jam, panas terik perjalanan, menghambur-hamburkan uang saja.
M: Hahaha. Iri tanda tak mampu!
S: Bukan begitu. Sampai kapan tradisi semacam ini menyekik leher mereka?! Bagi masyarakat urban, tradisi semacam ini sudah nggak penting. Tak perlu mereka menantang maut, membahayakan diri sendiri, naik atap kereta api, naik motor dengan jarak jauh atau naik mobil truk untuk balik kampung.
M: Hmmm.
S: Memangnya, silaturahmi harus bertemu? Jarak jauh pun bisa saling komunikasi. Saling memaafkan pun bisa dilakukan kapan saja.
M: Tapi, rasanya tetap beda. Kau suka makan ketupat lebaran dengan opor ayam?
S: Suka dong.
M: Kau pernah merasakan bedanya bukan antara opor lebaran dan opor bukan di hari lebaran?
S: Hehehe. Suasananya yang berbeda.
M: Nah, itu kau mengakui. Tradisi ini sangat baik untuk dipertahankan. Makna Idul Fitri, bukan hanya sekadar makan opor ayam dan bertemu dengan orangtua dan keluarga. Bayangkan, selama setahun mereka berjuang untuk mencari nafkah di daerah yang jauh dari kampung halaman, jauh dari orangtua, adik-kakak, teman dan tetangga. Ada kerinduan dalam batin mereka untuk melongok masa lalu, menikmati romantisme masa kecil, berbagi rezeki dengan saudara, memikirkan nasib orang tercinta yang selama ini ditinggalkan.
S: Hmmm. Tapi kan bisa kapan saja, bulan dan hari yang lain bisa mereka lakukan?
M: Setelah sebulan berpuasa, mengekang hawa nafsu, syahwat, tidak makan dan minum, lalu menyucikan jalan sosialnya dengan zakat dan sedekah, tak ada salahnya mereka merayakan karunia Allah bersama keluarga. Idul Fitri bisa dimaknai sebagai hari untuk menyucikan jiwa dan raga, sebagai re-fresh bagi kaum Muslimin untuk menghadapi hari sesudahnya, membawa pesan Ramadhan pada bulan-bulan selanjutnya.
S: Lalu, apa maksud fitrah pada Idul Fitri? Apa ada dasarnya dalam Al-Quran dan Hadis, apakah pernah dicontohkan Rasul bagaimana merayakan Idul Fitri?
M: Ini adalah konsep kembali kepada fitrah, kembali kepada kesucian, kembali kepada tujuan asal, kembali kepada negeri yang membuat mereka bermimpi tentang masa depan. Kita dituntut untuk selalu mengingat tujuan ibadah, tujuan penciptaan manusia, dan tujuan untuk tetap di jalan kesucian. Allah dan Rasulnya sampai mengharamkan makan di hari raya ini! Rasul menyuruh kita “berpesta.” Ini bukan “pesta” yang berarti hura-hura, tapi penyadaran jiwa kepada Sang Khalik. Dan, dengan kumandang takbir, tasbih dan tahmid di hari Raya diharapkan mampu menghilangkan virus-virus kesombongan, kerakusan, dan keserakahan dalam diri. Agar kita mau mengakui kelemahan dan ketidakberdayaan sebagai hamba sehingga mampu melihat tujuan kita pulang ke Negeri Akhirat.
S: Tapi, apa perlu menghambur-hamburkan uang hanya untuk lebaran?
M: Selain hari raya pun, pasti menghamburkan uang tanpa tujuan itu salah. Namun, harus dilihat makna filosofi di balik itu dong. Bangunan silaturahmi tak cukup hanya dengan telpon dan SMS. Dalam pertemuan, orangtua bisa menasihati anaknya, di antara keluarga bisa saling menasihati, memotivasi, berlomba dalam kebaikan, saling memaafkan, saling membantu sesama. Ini merupakan tradisi luar biasa di Nusantara, yang tak bisa dihentikan.
S: Hmmmm
M: Secara sosial dan ekonomi, kita bisa menyaksikan bagaimana distribusi kesejahteraan dari kota ke kampung/desa dengan angka yang sangat tinggi. Trilyunan rupiah uang masuk ke daerah, desa dan kampung menjelang lebaran. Tak hanya dari kota-kota besar di Indonesia, tapi dari TKI di luar negeri pun jumlahnya sangat besar mengirimkan uang untuk keluarga di daerah. Ini cukup membantu menyelesaikan problem ekonomi daerah, meski bersifat jangka pendek.
S: Sudah cukup! Istrimu masak opor ayam nggak?
M: Hahaha. Saya undang kamu ke rumah saya. Mari makan opor bersama HMK-TBM.
S: Apa itu HMK-TBM?
M: Himpunan Muslim Kere Tak Bisa Mudik (HMK-TBM)

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin,
Salam,

Halim Ambiya


Tinggalkan komentar

Menyambut Bulan Ramadhan

Bulan ramadhan merupakan tamu yang istimewa bagi kita. Tentu kita sebagai tuan rumah harus menyambut kedatangannya dengan suaka cita dan memuliakannya. Bagaimana caranya kita menyambut bulan ramadhan? Berikut adalah kiat-kiat untuk menyambut puasa ramadhan:
1.Niat sungguh-sungguh
Ketika Ramadhan menjelang banyak orang berbondong-bondong pergi ke pasar dan supermarket untuk persiapan berpuasa. Mereka juga mempersiapkan dan merencanakan anggaran pengeluaran anggaran untuk bulan tersebut. Tetapi sedikit dari mereka yang mempersiapkan hati dan niat untuk Ramadhan. Puluhan kali Ramadhan menghampiri seorang muslim tanpa meninggalkan pengaruh positif pada dirinya seakan-akan ibadah Ramadhan hanya sekedar ritual belaka, sekedar ajang untuk menggugurkan kewajiban tanpa menghayati dan meresapi esensi ibadah tersebut, jika Ramadhan berlalu ia kembali kepada kondisinya semula.
Tancapkanlah niat untuk menjadikan Ramadhan kali ini dan selanjutnya sebagai musim untuk menghasilkan berbagai macam kebaikan dan memetik pahala sebanyak-banyaknya. Anggaplah Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terakhir yang kita lalui karena kita tidak bisa menjamin kita akan bertemu Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Tanamkan tekad yang disertai dengan keikhlasan untuk konsisten dalam beramal saleh dan beribadah pada bulan Ramadhan ini. Ingat sabda Rasulullah Saw.: “Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan ikhlas maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.”
2.Persiapan fisik dan jasmani
Menahan diri untuk tikak makan dan minum seharian penuh selama sebulan tentu memerlukan kekuatan fisik yang tidak sedikit, belum lagi kekuatan yang dibutuhkan untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat tarawih dan shalat sunnah lainnya, ditambah kekuatan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an dan beri’tikaf selama sepuluh hari di akhir Ramadhan. Kesemua hal ini menuntut kita selalu dalam kondisi prima sehingga dapat memanfaatkan Ramadhan dengan optimal dan maksimal
3. Merancang agenda kegiatan
Untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadan. Ramadhan sangat singkat. Karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan berharga yang bisa membersihkan diri dan mendekatkan diri kepada Allah.
4. Mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan puasa dan ibadah Ramadhan lainnya.
Wajib bagi setiap mukmin beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadan datang agar puasa kita benar dan diterima oleh Allah. Disamping pengetahuan yang berkenaan dengan puasa, pengetahuan-pengetahuan lain yang berkaitan dengan Ramadhan juga perlu seperti anjuran-anjuran, prioritas-prioritas amal yang harus dilakukan dalam Ramadhan, dan lain-lain agar setiap muslim dapat mengoptimalkan bulan ini sebaik mungkin“Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui,” begitu kata Allah di Al-Qur’an surah Al-Anbiyaa’ ayat 7.
5. Sambut Ramadan dengan tekad meninggalkan dosa dan kebiasaan buruk.
“Setiap manusia adalah pendosa dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat” demikian sabda Rasulullah Saw. seperti yang diwartakan Ahmad dan Ibnu Majah. 
Di antara karunia Allah adalah selalu mengulang-ulang kehadiran momen-momen Ramadhan adalah salah satu dari momen tersebut yang selalu datang setiap tahun. Ketika seorang hamba tenggelam dalam kelalaian karena harta benda, anak istri, dan perhiasan dunia lain yang membuat dia lupa kepada Rabbnya, terbius dengan godaan setan, dan terjatuh ke dalam berbagai macam bentuk maksiat datang bulan Ramadhan untuk mengingatkannya dari kelalaiannya, mengembalikannya kepada Rabbnya, dan mengajaknya kembali memperbaharui taubatnya. Ramadhan adalah bulan yang sangat layak untuk memperbarui taubat; karena di dalamnya dilipatgandakan kebaikan, dihapus dan diampuni dosa, dan diangkat derajat. Jika seorang hamba selalu dituntut untuk bertaubat setiap waktu, maka taubat pada bulan Ramadhan ini lebih dituntut lagi; karena Ramadhan adalah bulan mulia waktu dimana rahmat-rahmat Allah turun ke bumi. Marilah kita bertaubat! Karena tak satu pun dari kita yang bersih dari dosa dan bebas dari maksiat. Pintu taubat selalu terbuka dan Allah senang dan gembira dengan taubat hambanya. Taubat yang sungguh-sungguh atau taubat nasuha adalah dengan meninggalkan maksiat yang dilakukan, menyesali apa yang telah dilakukan, dan berjanji untuk tidak kembali mengulangi maksiat tersebut, dan jika dosa yang dilakukannya berkaitan dengan hak orang lain hendaknya meminta maaf dan kerelaan dari orang tersebut.


Tinggalkan komentar

PENTING NYA BERWUDHU

Memang ini kedengarannya sepele.Tapi jangan anggap enteng soal ini, pasalnya nabi senantiasa wudhu sebelu tidur.berwudhu,disamping bernilai ibadah juga bermanfaat besar bagi kesehatan.

Peneliti dari Universitas Alexsandria ,dr musthafa syahatah, yang sekaligus menjabat sebagai Dekan Fakultas THT, menyebutkan bahwa jumlah kuman pada orang yang berwudhu lebih sedikit dibanding orang yang tidak berwudhu.

Dengan ber-istisnaq (menghirup air dalam hidung) misalnya kita dapat mencegah timbulnya penyakit dalam hidung. Dengan mencuci kedua tangan ,kita dapat menjaga kebersihan tangan. Kita juga bisa menjaga kebersihan kulit wajah bila kita rajin berwudhu. Selain itu, kita juga bisa menjaga kebersihan daun telinga dan telapak kaki kita, artinya dengan sering berwudhu kita dapat menjaga kesehatan tubuh kita.

Lalu ,bagaimana jika berwudhu dilakukan sebelum tidur ? Nah, para pakar kesehatan di dunia senantiasa menganjurkan agar kita mencuci kaki mulut dan muka sebelum tidur. Bahkan ,sejumlah pakar kecantikan memproduki alat kecantikan agar dapat menjaga kesehatan kulit muka.

Di samping itu tentunya anjuran untuk berwudhu juga mengandung nilai ibadah yang tinggi. Sebab ketika seseorang dalam keadaan suci. Jika seseorang berada dalam keadaan suci, berarti ai dekat dengan Allah. Karena Allah akan dekat dan cinta kepada orang-orang yang berada dalam keadaan suci.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa tidur dimalam hari dalam keadaan suci (berwudhu’) maka Malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya Malaikat itu akan berucap ‘Ya Allah ampunilah hamba mu si fulan, kerana ia tidur di malam hari dalam keadaan selalu suci’”. (HR Ibnu Hibban dari Ibnu Umar r.a.)

Hal ini juga ditulis dalam kitab tanqih al-Qawl al-Hatsis karangan syekh Muhamad bin Umar an-Nawawi al-Bantany. Dari Umar bin Harits bahwa Nabi bersabda :“Barangsiapa tidur dalam keadaan berwudhu , maka apabila mati disaat tidur maka matinya dalam keadaan syahid disisi Allah.

Maksudnya orang yang berwudhu sebelum tidur akan memperoleh posisi yang tinggi disisi Allah.

Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa berwudhu sebelu tidur merupakan anjuran nabi yang harus dikerjakan bila seseorang ingin memperoleh kemuliaan disisi Allah.

Manfaat Wudhu Sebelum Tidur

Pertama, merilekskan otot-otot sebelum beristirahat. Mungkin tidak terlalu banyak penjelasan. Bisa dibuktikan dalam ilmu kedokteran bahwa percikan air yang dikarenakan umat muslim melakukan wudhu itu merupakan suatu metode atau cara mengendorkan otot-otot yang kaku karna lelahnya dalam beraktifitas. Sangat diambil dampak positifnya bahwa jika seseorang itu telah melakukan wudhu, maka pikiran kita akan terasa rileks. Badan tidak akan terasa capek.
Kedua, mencerahkan kulit wajah.

Kedua, Wudhu dapat mencerahkan kulit wajah karena kinerja wudhu ini menghilangkan noda yang membandel dalam kulit. Kotoran-kotoran yang menempel pada kulit wajah kita akan senantiasa hilang dan tentunya wajah kita menjadi cerah dan bersih.

Ketiga, didoakan malaikat. Dalam sabda Beliau yang disinggung pada bagian atas, malaikat akan senantiasa memberikan do’a perlindungan kepada umat muslim yang senantiasa wudhu sebelum tidur. Padahal malaikat adalah makhluk yang senantiasa berdzikir kepada Allah. niscaya do’anya akan senantiasa dikabulkan pula oleh Allah. Oleh karena itu, senantiasa berwudhu itu adalah hal yang wajib kita lakukan.

Fenomena Meninggal Dunia Saat Tidur Dalam Sunnah

Jauh-jauh hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah memberikan bimbingan dalam tidur agar tidak menimbulkan bahaya, di antaranya tidur sambil miring ke kanan, tidak tidur sambil tengkurap.

Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, Pernah suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati seseorang yang tidur tengkurap di atas perutnya, lalu beliau menendangnya dengan kakinya seraya bersabda, “Sesungguhnya (posisi tidur tengkurap) itu adalah posisi tidur yang tidak disukai Allah Azza Wa Jalla.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).

Sesungguhnya sebab kematian itu bermacam-macam, namun kematian tetaplah satu. Selain Sleep Apnea masih ada sebab lainnya yang menjadi media datangnya kematian. Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan tips terbaik bagi umatnya dalam menghadapi kematian yang datangnya tak terduga ini.

Disebutkan dalam Shahihain, dari sabahat al-Bara’ bin Azib radliyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepadanya; “Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan shalat.” (HR. Bukahri dan Muslim).

Dalam menjelaskan faidah dari perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini, Al-Hafidz Ibnul Hajar menyebutkan hikmahnya, di antaranya yaitu: Agar dia tidur pada malam itu dalam keadaan suci supaya ketika kematian menjemputnya dia dalam keadaan yang sempurna. Dari sini diambil kesimpulan dianjurkannya untuk bersiap diri untuk menghadapi kematian dengan menjaga kebersihan (kesucian) hati karena kesucian hati jauh lebih penting daripada kesucian badan.

Imam al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan tiga hikmah berwudlu sebelum tidur (yang maksudnya tidur dalam keadaan suci). Salah satunya adalah khawatir kalau dia meninggal pada malam tersebut.

Abdul Razak mengeluarkan sebuah atsar dari Mujahid dengan sanad yang kuat, Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma berkata,
“Janganlah engkau tidur kecuali dalam kondisi berwudlu (suci), karena arwah akan dibangkitkan sesuai dengan kondisi saat dia dicabut.”

Nah ! Ayo berwudlu !


Tinggalkan komentar

KHAROMAH AULIYA SAYAIKH HASAN ASYADILY

Sulthonul Auliya’ Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra adalah seorang yang dianugerahi karomah yang sangat banyak, tidak ada yang bisa menghitung karomahnya kecuali Allah SWT. Dan sebagian dari karomah beliau antara lain adalah : 1.Allah SWt menganugerahkan kepada beliau kunci seluruh Asma-Asma, sehingga seandainya seluruh manusia dan jin menjadi penulis beliau (untuk menulis ilmu-ilmu beliau) mereka akan lelah dan letih, sedangkan ilmu beliau belum habis. 2.Beliau adalah sangat terpuji akhlaqnya, sifat mudah menolong dan kedermawanannya dari sejak usia anak-anak sampai ketika umur enam tahun telah mengenyangkan orang-orang yang kelaparan pada penduduk Negara Tunisia dengan uang yang berasal dari alam ghoib (uang pemberian Allah secara langsung kepada beliau. 3.Beliau didatangi Nabiyulloh Khidir as untuk menetapkan “wilayatul adzimah” kepada beliau (menjadi seorang wali yang mempunyai kedudukan tinggi) ketika beliau baru berusia enam tahun. 4.Beliau bisa mengetahui batin isi hati manusia 5.Beliau pernah berbicara dengan malaikat dihadapan murid-muridnya 6.Beliau menjaga murid-muridnya meskipun di tempat yang jauh 7.Beliau mampu memperlihatkan/menampakkan ka’bah dari negara Mesir 8.Beliau tidak pernah putus melihat/menjumpai Lailatul Qodar semenjak usia baligh hingga wafatnya beliau. Sehingga beliau berkata : Apabila Awal Puasa ramadhan jatuh pada hari Ahad maka Lailatul Qodarnya jatuh pada malam 29, Awal Puasa pada hari Senin Lailatul Qodarnya malam 21, Awal puasa pada hari Selasa Lailatul Qodarnya malam 27, Awal puasa pada hari Rabu Lailatul Qodarnya malam 19, awal puasa pada hari Kamis Lailatul Qodarnya malam 25, awal puasa pada hari jum’at maka Lailatul Qodarnya pada malam 17, sedangkan bila awal puasa pada hari Sabtu maka Lailatul Qodarnya jatuh pada malam 23. 9.Barang siapa yang meninggal dan dikubur sama dengan hari meninggal dan dikuburkannya beliau, maka Allah akan mengampuni seluruh dosanya 10.Doa Beliau Mustajabah (dikabulkan oleh Allah SWT) 11.Beliau tidak pernah terhalang sekejap mata pandangannya dari Rasulullah saw selama 40 tahun (artinya beliau selalu berjumpa dengan Rasulullah selama 40 tahun) 12.Beliau dibukakan (oleh Allah) bisa melihat lembaran buku murid-murid yang masuk kedalam thoriqohnya, padahal lebar bukunya tersebut berukuran sejauh mata memandang. Hal ini berlaku bagi orang yang langsung baiat kepada beliau dan juga bagi orang sesudah masa beliau sampai dengan akhir zaman. Dan seluruh murid-muridnya (pengikut thoriqohnya) diberi karunia bebas dari neraka. Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra sungguh telah digembirakan diberi karunia, barang siapa yang melihat beliau dengan rasa cinta dan rasa hormat tidak akan mendapatkan celaka. 13.Beliau menjadi sebab keselamatan murid-muridnya/pengikutnya (akan memberikan syafaat di akhirat) 14.Beliau berdo’a kepada Allah SWT, agar menjadikan tiap-tiap wali Qutub sesudah beliau sampai akhir zaman diambil dari golongan thoriqohnya. Dan Allah telah mengabulkan Do’a beliau tersebut. Maka dari itu wali Qutub sesudah masa beliau sampai akhir zaman diambil dari golongan pengikut beliau. 15.Syaikh Abul Abbas Al Mursi ra berkata : “Apabila Allah SWT menurunkan bala/bencana yang bersifat umum maka pengikut thoriqoh syadziliyah akan selamat dari bencana tersebut sebab karomah syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra”. 16.Syaikh Syamsudin Al-Hanafi ra mengatakan bahwa pengikut thoriqoh syadziliyah dikaruniai kemulyaan tiga macam yang tidak diberikan pada golongan thoriqoh yang lainnya : a. Pengikut thoriqoh Syadziliyah telah dipilih di lauhil mahfudz b. Pengikut thgoriqoh syadziliyah apabila jadzab/majdub akan cepat kembali seperti sedia kala. c. Seluruh Wali Qutub yang diangkat sesudah masa syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra akan diambil dari golongan ahli thoriqoh Sadziliyah. 17.Apabila beliau mengasuh/mengajar murid-muridnya sebentar saja, sudah akan terbuka hijab. 18.Rasulullah saw memberikan izin bagi orang yang berdo’a Kepada Allah SWT dengan bertawasul kepada Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili. Sumber : “Tanwirul Ma’ali manaqibi Ali bin Abil Hasan Asy Syadzili“ karya Syaikh Muhammad Nahrowi (mbah Dalhar) bin Abdurrahman, Watu Congol, Muntilan – Magelang. KE DUA Pengenalan Tarekat Syadziliyah atau Syadzuliah Secara peribadi Abul Hasan asy-Syadzili tidak meninggalkan karya tasauf, begitu juga muridnya, Abul Abbas al-Mursi, kecuali hanya sebagai ajaran lisan tasawuf, doa-doa dan hizib-hizib. Ibn Atha’illah as-Sakandari adalah orang yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa-doa dan biografi kedua-duanya, sehingga khazanah tariqat Syadziliah tetap terpelihara. Ibn Atha’illah juga orang yang pertama kali menyusun karya-karya tentang aturan-aturan tariqat tersebut, pokok-pokoknya, prinsip-prinsipnya, bagi pengikut-pengikut tariqat ini dikemudian hari.Melalui pengedaran karya-karya Ibn Atha’illah, tariqat Syadziliah mulai tersebar sampai ke Maghribi, sebuah negara yang pernah menolak ajaran syeikh. Tetapi ia tetap merupakan tradisi individualistik, hampir-hampir mati, meskipun tema ini tidak dipakai, yang menitik beratkan pengembangan sisi dalam. Syadzili sendiri tidak mengenal atau menganjurkan murid-muridnya untuk melakukan aturan atau ritual yang khas dan tidak satupun yang berbentuk amalan-amalan terkenal yang digalakkan. Namun, bagi murid-muridnya tetap mempertahankan ajarannya. Para murid melaksanakan Tariqat Syadziliah di zawiyah-zawiyah yang tersebar tanpa mempunyai hubungan satu dengan yang lain. Ajaran tariqat ini dipengaruhi oleh al-Ghazali dan al-Makki. Salah satu perkataan as-Syadzili kepada murid-muridnya: “Seandainya kamu mengajukan suatu permohonanan kepada Allah, maka sampaikanlah lewat Abu Hamid al-Ghazali”. Perkataan yang lainnya: “Kitab Ihya’ Ulum ad-Din, karya al-Ghazali, mewariskan anda ilmu. Sementara Qut al-Qulub, karya al-Makki, mewariskan anda cahaya.” Selain kedua kitab tersebut, karya-karya lain yang dijadikan rujukan adalah dari al-Muhasibi, Khatam al-Auliya iaitu karya Hakim at-Tarmidzi, Al-Mawaqif wa al-Mukhatabah karya An-Niffari, Asy-Syifa karya Qadhi ‘Iyad, Ar-Risalah karya al-Qusyairi, Al-Muharrar al-Wajiz karya Ibn Atha’illah. Tariqat Syadziliah diasakan dengan menisbahkan nama pengasas dengan ajaran-ajaran tariqat. Tariqat ini bersambung-sambung silsilahnya sampai kepada Saidina Hassan bin Ali bin Abi Talib ra dan terus kepada Rasulullah saw. Tariqah ini adalah salah satu tariqah yang dikatakan termudah dari segi ilmu dan amal, mengenai ahwal dan maqam, ehwal dan maqal dengan mudah dapat membawa para pengikutnya kepada jazab, mujahadah, hidayah, rahsia dan karamah. Menurut kitab-kitab dari tariqat ini, tidak terdapat syarat-syarat yang berat ke atas syeikh-syeikh tariqat ini. Mereka Cuma harus meninggalkan kegiatan maksiat, memelihara segala ibadah-ibadah sunat semampunya, zikir kepada Allah sebanyak mungkin, sekurang-kurangnya 1000 kali sehari semalam, istighfar sebanyak 100 kali sehari semalam serta mengamalkan beberapa zikir-zikir serta doa-doa hizib yang lain. Kitab Syadziliah meringkaskan bahawa terdapat dua puluh adab dalam pengamalan zikir. Lima sebelum memulakan zikir, dua belas daripadanya semasa mengucapkan zikir dan tiga sesudah selesai berzikir. Asas-asas dalam Tariqah Syadziliah itu terdiri dari lima perkara. 1. Ketaqwaan kepada Allah swt zahir dan batin, yang diwujudkan dengan jalan bersikap wara’ dan istiqamah dalam menjalankan perintah Allah swt. 2. Konsisten mengikuti Sunnah Rasul, baik dalam ucapan dan perbuatan, yang direalisasikan dengan selalu bersikap waspada dan bertingkah laku luhur. 3. Berpaling (hatinya) dari makhluk, baik dalam penerimaan atau penolakan, dengan berlaku sedar dan berserah diri kepada Allah swt (Tawakkal). 4. Redha kepada Allah, baik dalam kecukupan atau kekurangan, yang diwujudkan dengan menerima apa adanya (qana’ah/ tidak rakus) dan menyerah. 5. Kembali kepada Allah, baik dalam keadaan senang atau dalam keadaan susah, yang diwujudkan dengan jalan bersyukur dalam keadaan senang dan berlindung kepada-Nya dalam keadaan susah. Kelima sendi tersebut juga tegak diatas lima sendi berikut: 1. Semangat yang tinggi, yang mengangkat seorang hamba kepada darjat yang tinggi. 2. Berhati-hati dengan yang haram, yang membuatnya dapat meraih penjagaan Allah atas kehormatannya. 3. Berlaku benar/baik dalam berkhidmat sebagai hamba, yang memastikannya kepada pencapaian tujuan kebesaran-Nya/kemuliaan-Nya. 4. Melaksanakan tugas dan kewajiban, yang menyampaikannya kepada kebahagiaan hidupnya. 5. Menghargai (menjunjung tinggi dan bersyukur) nikmat, yang membuatnya selalu meraih tambahan nikmat yang lebih besar. Selain itu tidak mempedulikan sesuatu yang bakal terjadi (merenungkan segala kemungkinan dan akibat yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang) merupakan salah satu pandangan tariqat ini, yang kemudian diperdalam dan diperkasakan oleh Ibn Atha’illah menjadi doktrin utamanya. Kerana menurutnya, jelas hal ini merupakan hak prerogratif Allah. Apa yang harus dilakukan manusia adalah hendaknya ia menunaikan tugas dan kewajibannya yang boleh dilakukan pada masa sekarang dan hendaknya manusia tidak disibukkan oleh masa depan yang akan menghalanginya untuk berbuat kebaikan KE TIGA Habib Mundir Al Musawa Hadits Dhoif adalah hadits yang lemah hukum sanad periwayatnya atau pada hukum matannya, mengenai beramal dengan hadits dhaif merupakan hal yang diperbolehkan oleh para Ulama Muhadditsin. Hadits dhoif tak dapat dijadikan Hujjah atau dalil dalam suatu hukum, namun tak sepantasnya kita menafikan (meniadakan) hadits dhoif, karena hadits dhoif banyak pembagiannya.Dan telah sepakat jumhur para ulama untuk menerapkan beberapa hukum dengan berlandaskan dengan hadits dhoif, sebagaimana Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, menjadikan hukum bahwa bersentuhan kulit antara pria dan wanita dewasa tidak membatalkan wudhu, dengan berdalil pada hadits Aisyah ra bersama Rasul saw yang Rasul saw menyentuhnya dan lalu meneruskan shalat tanpa berwudhu, hadits ini dhoif, namun Imam Ahmad memakainya sebagai ketentuan hukum thaharah. Hadits dhoif banyak pembagiannya, sebagian ulama mengklasifikasikannya menjadi 81 bagian, adapula yang menjadikannya 49 bagian dan adapula yang memecahnya dalam 42 bagian. Namun para Imam telah menjelaskan kebolehan beramal dengan hadits dhoif bila untuk amal shalih, penyemangat, atau manaqib. Inilah pendapat yang mu’tamad, namun tentunya bukanlah hadits dhoif yang telah digolongkan kepada hadits palsu. Sebagian besar hadits dhoif adalah hadits yang lemah sanad perawinya atau pada matannya, tetapi bukan berarti secara keseluruhan adalah palsu, karena hadits palsu dinamai hadits munkar, atau mardud, batil, maka tidak sepantasnya kita menggolongkan semua hadits dhaif adalah hadits palsu, dan menafikan (menghilangkan) hadits dhaif karena sebagian hadits dhaif masih diakui sebagai ucapan Rasul saw, dan tak satu muhaddits pun yang berani menafikan keseluruhannya, karena menuduh seluruh hadist dhoif sebagai hadits yang palsu berarti mendustakan ucapan Rasul saw dan hukumnya kufur. Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa yang sengaja berdusta dengan ucapanku maka hendaknya ia bersiap – siap mengambil tempatnya di neraka” (Shahih Bukhari hadits No.110). Sabda beliau SAW pula : “sungguh dusta atasku tidak sama dengan dusta atas nama seseorang, barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku maka ia bersiap siap mengambil tempatnya di neraka” (Shahih Bukhari hadits No.1229). Cobalah anda bayangkan, mereka yang melarang beramal dengan seluruh hadits dhoif berarti mereka melarang sebagian ucapan atau sunnah Rasul saw, dan mendustakan ucapan Rasul saw. Wahai saudaraku ketahuilah, bahwa hukum hadits dan Ilmu hadits itu tak ada di zaman Rasulullah saw. Ilmu hadits itu adalah bid’ah hasanah, baru ada sejak Tabi’in, mereka membuat syarat perawi hadits, mereka membuat kategori periwayat yang hilang dan tak dikenal, namun mereka sangat berhati – hati karena mereka mengerti hukum, bila mereka salah walau satu huruf saja, mereka bisa menjebak ummat hingga akhir zaman dalam kekufuran, maka tak sembarang orang menjadi muhaddits, lain dengan mereka ini yang dengan ringan saja melecehkan hadits Rasulullah saw. 15 jam yang lalu · Suka KE EMPAT بسم الله الرحمن الرحيم بين الحقيقة والشريعة لقد ورد في حديث جبريل المشهور الذي يرويه عمر بن الخطاب رضي الله عنه تقسيم الدين إلى ثلاثة أركان، بدليل قول رسول الله صلى الله عليه وسلم لعمر :”هذا جبريل أتاكم يعلمكم دينكم” “أخرجه مسلم والإمام احمد 1- فركن الإسلام : هو الجانب العملي؛ من عبادات ومعاملات وأمور تعبدية، ومحله العضاء الظاهرة الجسمانية. وقد اصطلح العلماء على تسميته بالشريعة، واختص بدراسته السادة الفقهاء. 2- وركن الإيمان: وهو الجانب الاعتقادي القلبي؛ من إيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر والقضاء والقدر… وقد اختص بدراسته علماء التوحيد. 3- وركن الإحسان: وهو الجانب الروحي القلبي؛ وهو ان تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك، وماينتج عن ذلك من احوال وأذواق وجدانية ومقامات عرافانية وعلوم وهبية، وقد اصطلح العلماء على تسميته بالحقيقة، واختص ببحثه السادة الصوفية. ولتوضيح الصلة بين الشريعة والحقيقة نضرب لذلك مثلا الصلاًة، فالإتيان بحركاتها وأعمالها الظاهرة والتزام أركانها وشروطها وغير ذلك مما ذكره علماء الفقه يمثل جانب الشريعة، وهو جسد الصلاة. وحضور القلب مع الله تعالى في الصلاة يمثل جانب الحقيقة، وهو روح الصلاة. فأعمال الصلاة البدنية هي جسدها والخشوع روحها. ومافائدة الجسد بلا روح؟! وكما أن الروح تحتاج إلى جسد تقوم فيه، فكذلك الجسد يحتاج إلى روح يقوم بها، ولهذا قال الله تعالى ( وأقيموا الصلاة وءاتو الزكاة) البقرة110. ولاتكون الإقامة إلا بجسد وروح، ولذلك لم يقل . أوجدوا الصلاة. ومن هذا ندرك التلازم الوثيق بين الشريعة والحقيقة كتلازم الروح والجسد. والمؤمن الكامل هو الذي يجمع بين الشريعة والحقيقة، وهذا هو توجيه الصوفية للناس، مقتفين بذلك آثار رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه الكرام. وللوصول إلى هذا المقام الرفيع، والإيمان الكامل، لابد من سلوك الطريقة، وهي مجاهدة النفس، وتصعيد صفاتها الناقصة إلى صفات كاملة، والترقي في مقامات الكمال بصحبة المرشدين، فهي الجسر الموصل من الشريعة إلى الحقيقة. قال السيد رحمه الله تعالى في تعريفاته:”الطريقة هي السيرة المختصة بالسالكين إلى الله تعالى، من قطع المنازل والنرقي في المقاماتأنظر” تعريفات السيد ص94 فالشريعة هي الأساس، والطريقة هي الوسيلة، والحقيقة هي الثمرة. وهذه الأشياء الثلاثة متكاملة منسجمة، فمن تمسك بالأولى منها سلك الثانية فوصل إلى الثالثة، وليس بينها تعارض ولاتناقض. ولذلك يقول الصوفية في قواعدهم المشهورة.”كل حقيقة خالفت الشريعة فهي زندقة”. وكيف تخالف الشريعة وهي إنما نتجت من تطبيقها. يقول إمام الصوفية أحمد زروق رحمه الله تعالى:”لاتصوف إلا بفقه إذ لاتعرف أحكام الله الظاهرة إلا منه. ولافقه إلا بتصوف، إذ لاعمل إلا بصدق وتوجه لله تعالى. ولاهما [التصوف والفقه] إلا بإيمان إذ لايصح واحد منهما دونه. فلزم الجميع لتلازمها في الحكم، كتلازم الأجسام للأرواح ولاوجود لها إلا فيها، كما لاحياة لهاإلا بها، فافهم”. أنظر “قواعد التصوف” للشيخ أحمد زروق قاعدة3.ص3 ويقول الإمام مالك رحمه الله تعالى:”من تصوف ولم يتفقه فقد تزندق، ومن تفقه ولم يتصوف فقد تفسق، ومن جمع بينهما فقد تحقق” انظر شرح” عين العلم وزين الحلم للإمام ملا”علي القاريج ص33/1 تزندق الأول لأنه نظر إلى الحقيقة مجردة عن الشريعة، فقال بالجبر وان الإنسان لاخيار له في أمر من الأمور فهو يتمثل قول القائل. ألقـاه في اليــم مكتوفا وقال لـــه……………إيــــــاك إيــــــاك أن تبتل بالماء فعطل بذلك احكام الشريعة والعمل بها، وأبطل حكمتها والنظر إليها. وتفسق الثاني لأنه لم يدخل قلبه نور التقوى، وسر الإخلاص وواعظ المراقبة وطريقة المحاسبة حتى يحجب عن المعصية

NASIHAT SYEKHABDUL QADIR AL-JAILANI TENTANG RIDHA

Tinggalkan komentar

“Kalian harus senantiasa ridha kepada Allah Azza wa Jalla dalam keadaan senang maupun susah, dalam keadaan baik maupun buruk, sehat ataupun sakit, kaya maupun miskin, dan dalam keadaan sukses ataupun gagal. Aku tidak melihat obat yang baik bagi kalian selain berserah diri kepada-Nya, Jika Allah menakdirkan sesuatu bagi kalian, janganlah takut. Janganlah mengeluh kepada selain-Nya, sebab itu justru bisa menyebabkan bencana bagi kalian, Tenang dan diamlah! Jika kalian ridha, Dia akan mengubah kesusahan kalian menjadi kebahagiaan!”
–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani

This gallery contains 0 photos

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.