CAHAYA DZIKIR

Cahaya Cinta


Tinggalkan komentar

PESAN SYEKH ABDUL QADIR UNTUK ANAK MUDA

Wahai anak muda! Engkau harus berjuang dengan sepenuh kemampuanmu untuk menaati Allah dan Rasul-Nya. Engkau harus melakukan setiap upaya untuk memberi kepada orang-orang yang tidak mau memberi kepadamu, menyambungkan tali silaturahim dengan orang-orang yang memutuskannya denganmu, dan memaafkan mereka yang menzalimimu.
Engkau harus melakukan sepenuh kemampuanmu setiap usaha agar berhasil, sedangkan matamu tetap berada bersama dengan hamba-hamba Allah yang taat, sedangkan kalbumu bersama Allah dan hamba-hamba itu.
Engkau harus melakukan sepenuh kemampuanmu setiap dalam setiap usaha untuk memastikan bahwa engkau selalu mengatakan kebenaran dan tidak pernah berdusta.
Engkau harus melakukan sepenuh kemampuanmu setiap dalam setiap usaha untuk memastikan bahwa engkau selalu tulus ikhlas dan tidak bersikap munafik!
Luqman Al-Hakim (semoga Allah merahmatinya) sering kali berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, janganlah engkau menyombongkan diri kepada manusia. Celakalah engkau jika engkau kelak bertemu dengan Allah SWT, sedangkan kalbumu tidak berharga!”
Wahai anak muda!
Janganlah engkau menjadi orang yang bermuka dua, berlidah dua dengan dua macam prilaku, yang satu untuk berhubungan dengan si fulan dan yang lain untuk berhubungan dengan orang yang lain. Aku bisa memastikan kepadamu bahwa aku telah diberi wewenang untuk berurusan dengan setiap munafik yang berdusta dan Dajjal. Aku telah diberi wewenang untuk berurusan dengan setiap orang yang bersalah karena tidak taat kepada Allah, yang terpenting di antaranya adalah Iblis dan yang paling remeh adalah pendosa yang biasa (fasiq).
Aku memerangimu dan memerangi setiap orang yang sesaat, yang menyesatkan orang lain!
–Syekh Abdul Qadir Jailani dalam Jala al-Khawathir


Tinggalkan komentar

HATI YANG TAK MENDUA

Ibnu Atha’illah mengatakan, “Pahamilah firman Allah, ‘Yaitu hari harta dan anak-anak tidak berguna. Kecuali orang yang menghadap Allah dengan kalbu yang sehat.” Kalbu yang sehat adalah yang hanya bergantung kepada Allah.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri seperti pertama kali Kami ciptakan. Lalu kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) ini apa yang telah Kami karuniakan kepadamu.’ Dapat dipahami bahwa kau baru bisa datang kepada Allah dan sampai kepada-Nya jika kau sendirian tanpa apa pun selain Dia. Allah berfirman, “Bukankah Dia mendapatimu sebagai yatim, lalu Dia memberikan perlindungan?”
Maksudnya, Allah akan melindungimu jika kau benar-benar yatim dari segala sesuatu selain Dia.
Nabi SAW bersabda, ‘Allah itu ganjil (tunggal), senang kepada yang ganjil.’ Artinya, Dia menyenangi hati yang tidak menerima dualisme. Hati itu hanya untuk Allah. Dengan pertolongan Allah, orang yang berada di hadapan-Nya dan mendapat curahan nikmat-Nya dapat memahami. Maka, bagaimana mungkin mereka akan bersandar kepada selain Dia, sementara mereka telah menyaksikan wujud ke-esaan-Nya.”
–Ibnu Atha’illah dalam Taj Al-Arus


Tinggalkan komentar

JEJAK CINTA SEORANG HAMBA

Imam Abu Bakar Asy-Syibli menceritakan:
Aku berjumpa dengan seorang perempuan yang berasal dari Habsyah yang tampak linglung tak tentu arah. Dia berlari-lari dan berjalan cepat tak tahu tujuan.
Lalu, kukatakan kepadanya, “Wahai Ibu, kasihanilah dirimu!”
Tiba-tiba dia menjawab, “Huwa (Dia).”
“Darimana engkau sebenarnya?” tanyaku.
“Dari Huwa (Dia).”
“Engkau mau pergi kemana?”
“Pergi ke Dia.”
“Apa yang kau inginkan dari Dia?”
“Dia.”
Akhirnya, aku bertanya, “Berapa kali engkau menyebut Dia?”
“Lidahku tak pernah lelah menyebut Dia (Huwa) sampai aku bertemu dengan Dia,” jawabnya tegas.
Lalu, tiba-tiba dia bersenandung,
“Kehormatan cintaku kepada-Mu tak tergantikan.
Hanya Engkau yang kutuju; tidak ada yang lainnya.
Aku tergila-gila kepada-Mu, meski mereka menganggapku sakit.
Kujawab bahwa sakit ini tak pernah lenyap dari diriku.”
Kemudian, Imam Abu Bakar Asy-Syibli mengatakan kepada perempuan itu:
“Wahai hamba Allah, apakah yang engkau maksud dengan Dia (Huwa)? Apakah Allah?
Tiba-tiba, mendengar kata “Allah” disebut oleh Asy-Syibli di depannya, nafasnya langsung tersengal-sengal, lalu ia secara mengejutkan meninggal dunia sejurus setelah itu.
Imam Abu Bakar Asy-Syibli pun bercerita bahwa ketika dirinya hendak mengurus jenazah wanita tersebut, tiba-tiba dia mendengar suara, “Wahai Asy-Syibli, barang siapa mabuk cinta kepada Kami, linglung mencari Kami, lalu terus berdzikir mengingat Kami, serta meninggal dengan nama Kami, biarkanlah dia kepada Kami! Pengurusan (jenazahnya) menjadi kewajiban Kami!”
Lalu, segera saja Asy-Syibli menoleh ke arah suara itu. “Aku menoleh ke sumber suara itu, tapi aku tak melihat siapa pun. Aku terhijab. Aku pun tak tahu apakah wanita tersebut diangkat atau dikubur. Wanita itu mendadak hilang. Semoga Allah mengampuninya.”
–Dikutip dari kitab Al-Qashd Al-Mujarrad fi Ma’rifat al-Ism Al-Mufrad karya Ibnu Atha’illah


Tinggalkan komentar

Agen Perubahan

Just Read “inspiring”

Tokoh negarawan yang populer & saya kagumi antara lain Mahatma Gandhi.

Ketika India masih dijajah Inggris, Ia menjadi pemimpin yang berhasil membawa India keluar menjadi bangsa yang merdeka.

Ia percaya bahwa setiap orang harus dapat menjadi pembawa perubahan untuk melihat apa yang mereka inginkan dapat terjadi di dunia ini.

Di Jamannya, Gandhi merupakan seorang pemimpin yang revolusioner, dan Ia membawa India menjadi bangsa yang merdeka tanpa memulai sebuah revolusi. Bahkan ia melakukannya tanpa kekerasan sama sekali.

Gerakan Satyagraha yang dipimpinnya berhasil membawa perubahan bagi sebuah bangsa yang dahulu terpuruk tapi kini menjadi bangsa yang diperhitungkan dalam peta perdagangan dunia.

“In a gentle way you can shake the world”
Artinya: dengan sebuah cara yang lemah lembut Anda dapat menggoncangkan dunia. Sungguh sebuah pemikiran yang berbeda untuk memperjuangkan sebuah kemerdekaan.

Ada begitu banyak orang yang berjuang dengan demostrasi & kekerasan untuk dapat mengubah sesuatu, namun pada akhirnya hal tersebut berakhir dengan sia-sia.

Untuk menjadi agen perubahan, kita tidak harus berteriak. Kita juga tidak harus pandai berbicara. Kita tidak harus menjadi terpilih. Kita juga tidak harus menjadi sangat pandai atau berpendidikan. Yang kita butuhkan adalah memiliki sebuah komitmen. Sebab perubahan harus selalu dimulai dari diri kita terlebih dahulu..

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.