CAHAYA DZIKIR ( Majlis Al-Karomah )

Cahaya Cinta

Biografi Syekh Ahmad badawi arrifa’i

Tinggalkan komentar

Rabu, 24 Juli 2013

Syekh Al-Sayyid Ahmad Al-Badawi : Quthb al-Awliya al-Ghauts al-‘Adzhim
الرَّحِيْمِ

      Syekh Al-Sayyid Ahmad Al-Badawi tergolong Wali Allah yang menempati maqam Quthb al-Awliya al-Ghauts al-‘Adzhim, ahli Futuwwah terbesar di Mesir, yang kemasyhurannya dikenal oleh banyak orang. Beliau juga terkenal sebagai Wali pelindung anak-anak. Makamnya di kota Tanta menjadi pusat ziarah utama di Mesir. Diyakini Allah Yang Maha Tinggi mengabulkan doa-doa dari mereka yang berziarah di makamnya, lantaran berkah dan karamah Wali Allah ini. Perayaan Maulid Syekh Ahmad al-Badawi senantiasa dihadiri oleh setidaknya dua juta orang.

       Syekh Ahmad Badawi adalah pendiri Tarekat Badawiyyah. Gelarnya banyak sekali, mencapai 29 buah gelar, diantaranya adalah Syihabudiin, Al-Aqthab, Abu al-Fityah, Syaikh al-Arab, Qutb an-Nabawy, Shahibul Barakat wa al-Karamat, dan sebagainya.
Menurut penulis terkenal Muslim al-Sayyid Muhammad al Murtadā -Zabīdī (w. 1205 H.), bahwa Silsilah al-Sayyid Ahmad al-Badawi adalah Ahmad bin ‘Alī bin Ibrahim bin Muhammad bin Abi Bakar bin Ismail bin’ Umar bin ‘Alī ibn Utsman ibn al-Husain bin Muhammad ibn Musa al-Ashhab bin Yahya bin ‘Isa bin’ Alī bin Muhammad bin Hasan bin Ja’far bin ‘Alī al-Hadi bin Muhammad al-Jawad ibn’ Alī ar-Ridha bin Musa al-Kazim bin Ja’far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin [Zain al-‘Abidin]’ Alī  ibn al-Husain bin Fatimah, putri Nabi Muhammad SAW.
Syekh Ahmad al-Badawi lahir pada 596 H di Fez (Maroko). Beliau masih keturunan dari Rasulullah saw melalui jalur sayyidina Husain. Ayahnya adalah Sayyid Ali ibn Ibrahim, Ibundanya, yang bernama Fathimah, masih termasuk keturunan bangsawan di kerajaan Maroko pada waktu itu. Al-Sayyid Ahmad al-Badawi adalah bungsu dari tujuh anak dari al-Sayyid ‘Alī (Radhiyallah Anhu). Saudara kandungnya al-Hasan (yang tertua, lahir di 583 H), Muhammad, Fatimah, Zainab, Ruqayyah, dan Fiddah.
Syekh Ahmad al-Badawi adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ketika Syekh Ahmad Badawi berusia tujuh tahun, sang ayah mendengar perintah Tuhan lewat mimpinya untuk pindah ke Mekah.Selama di Mekah ini Syekh Ahmad Badawi yang usianya masih sekitar 12 tahun memperdalam ilmu agamanya, dan berhasil menghafal al-Qur’an dan menguasai tujuh cara qira’at atau bacaannya. Beliau mendalami fiqh mazhab Imam Syafi’i.
Saat di Mekah ini keluarga Syekh Ahmad Badawi kedatangan seorang tamu misterius. Lelaki misterius ini, yang belum pernah bertemu Syekh Ahmad Badawi, mengemukakan detail ciri-ciri, tanda-tanda, dan kepribadian Syekh Badawi, dan bahkan mengutarakan berbagai kelebihannya dan kedudukannya di masa depan. Menurut lelaki itu, “Aku bermimpi bertemu Rasulullah saw, yang memberi tahuku bahwa dirinya (Syekh Ahmad Badawi) akan dikaruniai sebaik-baik ahwal (keadaan spiritual), dan darinya akan lahir banyak sebaik-baik rijal Allah (yakni Wali-wali Allah).” Bahkan lelaki misterius ini mengatakan bahwa Syekh Ahmad Badawi akan selalu menutup mukanya (gelar Badawi ini dikarenakan kebiasaannya menutup muka, seperti kebiasaan orang-orang badui – atau badwi dalam bahasa Arab).Sejak masih remaja Syekh Ahmad Badawi menunjukkan kemahirannya dalam menunggang kuda dan memainkan pedang. Pada periode ini pula beliau sudah tertarik dengan ajaran Tasawuf.
Guru pertamanya adalah Syekh Abdul Jalil ibn Abdurrahman an-Naisaburi. Beliau juga mendapat ijazah tarekat dari Syekh al-Birri al-Iraqi, seorang mursyid Tarekat Rifaiyyah. Sesudah beberapa waktu mendalami Tasawuf beliau lebih suka menyendiri dan berkhalwat. Riyadhah dan mujahadahnya tergolong luar biasa. Menurut satu riwayat beliau pernah 40 hari berpuasa tanpa putus. Selama riyadhah beliau tak pernah bicara dengan orang, dan kalau bertemu orang beliau menggunakan bahasa isyarat. Seluruh tarikan nafasnya diisi dengan zikir dan shalawat. Beliau juga sering berkhalwat di Jabal Abu Qubais.Beliau juga tak pernah melepaskan tutup wajahnya. Ini disebabkan beliau dikaruniai oleh cahaya ilahiah yang amat terang, sehingga bahkan mata dan wajahnya memancarkan cahaya.
Pada suatu malam pada bulan Syawal 633 H, beliau dikunjungi oleh ruh Sulthan al-Awliya Syekh Abdul Qadir al-Jilani dan Syekh Ahmad Rifa’i. Kedua Wali Allah agung itu menyuruh Syekh Ahmad Badawi pergi ke Irak untuk menziarahi makam mereka dan juga makam wali-wali lain. Kemudian bersama kakaknya, Syekh Hasan, beliau berangkat menuju ke Irak. Syekh Ahmad Badawi menyempatkan diri berziarah ke Imam Musa al-Kazim, salah seorang leluhurnya. Selama perjalanan ziarah ini beliau mengalami banyak penyingkapan ilahiah dan anugerah berbagai ilmu rahasia ilahi yang tiada putus-putusnya.
Syekh Abdul Qadir al-Jilani dan Syekh Ahmad Rifa’i akhirnya langsung menyambut beliau di alam arwah. Kedua wali agung itu menawarkan kepada beliau kunci-kunci kerajaan spiritual di Irak, Yaman, Rum (Turki), dan juga kunci kerajaan ruhani Timur dan Barat, karena keduanyalah yang memegang kunci-kunci itu. Namun Syekh Badawi menolaknya karena beliau akan mengambilnya langsung dari pemilik segala kunci, al-Fattah, yakni Allah swt.Penolakan ini bukan lantaran ketidaksopanan atau penentangan, tetapi karena pada saat itu Syekh Ahmad Badawi mengalami “jadzab”, tenggelam dalam kemabukan Ilahi sehingga beliau hanya menyaksikan Allah dengan segala Keagungan dan Keindahan-Nya.
Selepas melakukan perjalanan ziarah ke makam-makam Wali Allah, Syekh Ahmad Badawi dan Syekh Hasan(Kakak Syekh Ahmad Badawi) sempat diganggu dan diserang oleh para ahli sihir dan tenung. Tetapi berkat pertolongan Allah melalui kekuatan spiritualnya semua gangguan itu bisa diatasi.  Syekh Ahmad Badawi kemudian menuju ke Umm Abidah, daerah asal Syekh Ahmad Rifa’i. Setelah dari sini Syekh Hasan pulang ke Mekah, sedangkan Syekh Ahmad Badawi melanjutkan ziarah ke makam Syekh Adi ibn Musafir al-Hakkari, pendiri Tarekat Adawiyyah. Sesudah itu barulah beliau kembali ke Mekah.
Pada tahun 634 H beliau menerima hatif (bisikan ilahi) untuk pergi ke Mesir dan menetap di Tanta. Sesampainya di Tanta beliau tinggal di rumah Syekh Rukain ibn Syuhait. Syekh Rukain sendiri telah diberitahu oleh seorang Wali Allah bernama Syekh Salim al-Maghribi bahwa Syekh Ahmad Badawi akan datang dan akan tinggal di rumah Syekh Rukain. Di atas rumah Syekh Rukain ini Syekh Ahmad Badawi melakukan khalwat 40 hari 40 malam dan terus-menerus memandang langit, bahkan di siang hari sekalipun. Karenanya, sekeluarnya dari tempat khalwat ini kornea matanya menjadi berwarna merah membara, laksana menyala bak api, karena menatap matahari setiap hari.
Syekh Ahmad Badawi selanjutnya tinggal di loteng atas rumah itu selama 12 tahun, dibantu oleh beberapa muridnya. Pada masa itu pula tamu-tamu mulai ramai berdatangan dan keadaan perekonomian Syekh Rukain dan kawasan Tanta menjadi lebih baik. Bahkan Sultan Al-Zahir Baybars sangat menghormatinya dan ketika mengunjunginya dia mencium kaki Syekh Ahmad Badawi.
Syekh Ahmad Badawi wafat pada tahun 675 H/1276 M (tanggal 24 Agustus). Pemakamannya dihadiri ratusan ribu orang, sehingga kawasan itu tak muat dipenuhi peziarah. Dari sinilah berkembang tradisi perayaan maulid Wali Sayyid Ahmad al-Badawi, yang diawali sejak abad 14.
Warisan utama Syekh Ahmad Badawi adalah Tarekat Badawiyyah yang didirikannya di Tanta, setelah mendapat izin untuk membuat tarekat tersendiri di luar Tarekat Rifa’iyyah yang ditekuninya. Tarekat ini kelak berkembang menjadi cabang-cabang tersendiri seperti Tarekat Anbabiyyah, Tarekat Bandariyyah, Tarekat Baiyumiyyah, Tarekat Halabiyyah, Tarekat Hammudiyyah, Tarekat Kannasiyyah, Tarekat Salamiyyah, Tarekat Syinnawiyyah, Tarekat Sutuhiyyah, dan Tarekat Zahidiyyah.
Syekh Ahmad Badawi tidak menulis kitab. Tetapi beliau mewariskan amalan shalawat yang masyhur bukan hanya dikalangan pengikuti Tarekat Badawiyyah tetapi di kalangan umat islam dan penganut tarekat pada umumnya. Salah satu yang terkenal adalah Shalawat Syajarat al-Ashli, yang menurut beberapa pengamalnya, jika diamalkan secara istiqamah dibaca 3 kali setiap Subuh dan Mahgrib, maka akan bisa mendatangkan anugerah penyingkapan hal-hal rahasia.Dalam memberikan pelajaran beliau sering menggunakan kisah-kisah dan tamsil untuk memudahkan pemahaman. Karamah Syekh Ahmad Badawi amat banyak, sehingga Imam Sya’rani sampai mengatakan bahwa seandainya karamah-karamah beliau ditulis dalam satu buku tebal, niscaya satu buku tidak akan muat.
(“Semoga  Rahmat  dan  Keridhoan Allah SWT  selalu  tercurah  kepada   Syekh Al Sayyid Ahmad Al-Badawi…Amiiin”).

*****
Sumber : wordpress.com

Penulis: cahayadzikir

Terus belajar sampai di liang Lahat...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s