CAHAYA DZIKIR ( Majlis Al-Karomah )

Cahaya Cinta


Meninggalkan komentar

TARIKH: Biografi Imam Abu Syuja’ Shohibut Taqrib ABU SYUJA’ (433-593/1042-1196) Pengarang: Taqrib

SYIHAB al-Dunya wa ad-Din Ahmad bin Husain bin Ahmad al-Asfahani al-Syafi’i, populer dengan panggilan Abu Syuja’, berasal dari Isfahan, salah satu kota di Persia, Iran.

Ia dilahirkan di Bashrah pada tahun 433 H/1042 M. Pernah menjabat sebagai mentri pada dinasti bani Saljuk tahun 447H/1455M, sehingga dikenal dengan julukan Syihabuddunya waddin (bintang dunia dan agama). Di saat itu ia dapat menyebar luaskan agama dan keadilan. Kebiasaannya,tak pernah keluar rumah sebelum shalat dan membaca al-Qur’an sedapat mungkin.

Dalam urusan kebenaran, ia tak pernah gentar akan caci maki, hujatan dan kecaman dari siapapun, baik pejabat atau penjahat. Ketika menjabat sebagai mentri, Abu Syuja’ sangat dermawan. Ia mengangkat sepuluh orang pembantu untuk membagi-bagikan hadiah dan sedekah. Mereka diserahi seratus dua puluh ribu dinar. Uang sebanyak itu dibagi-bagikan kepada para ulama dan orang-orang yang saleh.

Abu Syuja’ adalah pakar fikih mazhab Syafi’i. Di Bashrah ia mendalami mazhab fikih yang dipelopori Imam Syafi’i selama ini, emapat puluh tahun tahun lebih, sehingga menjadi pakar fikih madzhab Syafi’I. Pada akhir usianya, ia memilih untuk hidup dalam kezuhudan. Seluruh hartanya dilepas dan ia pergi ke Madinah. Menyapu, menghampar tikar dan menyalakan lampu Mesjid Nabawi, merupakan aktivitas rutinnya setiap hari. Setelah salah seorang pembantu Mesjid Nabawi meninggal dunia, Abu Suja’ mengambil alih tugas-tugasnya. Rutinitas ini beliau jalani sampai ajal menjemputnya pada tahun 593 H/1166 M.

Abu Suja’ meninggal di Madinah. Janazahnya dimakamkan di Mesjid yang ia bangun sendiri di dekat Bab Jibril, sebuah tempat yang pernah disinggahi malaikat Jibril. Letak kepalanya berdekatan dengan kamar makam Nabi dari sebelah timur.

Allah menganugerahkan usia panjang kepada tokoh besar ini.160 tahun lamanya ia menghirup udara dunia. Akan tetapi dalam jangka waktu yang sangat panjang itu, tak satupun dari dari anggota tubuhnya yang cacat. Ketika ditanya mengenai rahasianya, beliau menjawab: “Aku tidak pernah menggunakan satupun dari anggota tubuhku untuk bermaksiat kepada Allah. Karena pada masa mudaku aku meninggalkan maksiat, maka Allah menjaga tubuhku di usia senja.”

Penjelasan riwayat hidup Abu Syuja’ yang diurai diatas disebut dalam beberapa kitab syarah Fath al-Qorib dan dikutil oleh beberapa orang. Tampaknya, semua sepakat bahwa Abu Syuja’ lahir pada tahun 433 H. tapi, mengenai tahun wafatnya masih diperselisihkan oleh beberapa kalangan. Yang menarik al-Bajuri menyebutkan bahwa Abu Syuja’ wafat pada tahun 488. padahal dalam redaksi lainnya ia menyebut persis seperti pesyarah yang lain. Haji Khalifah dalam Kasyf az- Zhunun menuturkan bahwa Abu Syuja’ meninggal pada tahun 488.

Dalam pernyataan bahwa, Abu Syuja’ pernah menjabat sebagai wazir pun masih perlu diselidiki kebenarannya. Sumber-sumber kitab sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu memang ada seorang wazir berjuluk Abu Syuja’. Ia dikenal adil dan alim. Ia juga mengarang kita Takmilah li-Kitab Tajarid al-Umam karya Ibnu Maskaweh. Ia juga bermazhab Syafi’i dan berguru pada Syekh Abu Ishaq as-Syirazi di Baghdad. Disebutkan pula bahwa ia terlahir pada tahun 437 dan wafat pada 488. tahun wafat itu sama dengan yang dsebut oleh al-Bajuri dan Haji Khalifah. Di sinilah timbul kekaburan.

Namun Abu Syuja’ sang wazir itu tidak bernisbah al-isfahani. Nisbahnya adalah ar-Rudzarawari. Namanya pun berbeda. Sang wazir itu bernama Muhammad al-Husain bin Muhammad bin Abdillah bin Ibrahim. Sedang Abu Syuja’, pengarang Taqrib, bernama Ahmad bin al-Husain binAhmad bin al- Isfahani. Hanya saja, kedua orang itu bertepatan berkunyah sama yaitu Abu Syuja’. Dalam kitab-kitab sejarah juga disebutkan bahwa Abu Syuja’, sang wazir Dinasti Abbasiyah, wafat di madinah. Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa kedua orang itu berbeda.

Mungkin saja para pesyarah fath al-Qorib seperti al-Bajuri, Syek Nawawi Banten dan majid al-Humawi ikut pada al-Bujairimi yang salah sadur dari ad-Dairobi. Yang lebih baik adalah mempercayai apa yang ada dalam Thabaqat as-Syafi’iyah karya as-Subki dan Dairah al-Ma’arif al-Islamiyah yang menyebut keduanya terpisah dan berbeda.

Ghayah al-Ikthishar yang dikarang oleh Abu Syuja’ termasuk karya terindah mengenai pokok-pokok fikih. Kitab yang lebih dikenal dengan sebutang Taqrib ini, mencakup permasalahan yang luas meskipun bentuknya kecil. Seorang ulama mengubah bait-bait syair, memuji Abi Suja’ dan karya monumentalnya, Ghayah al-Ikhtishar, yang lebih popular dengan sebutan Taqrib:
Wahai yang menghendaki faidah berkesinambungan
Demi peroleh keluhuran dan kemanfaatan
Dekatilah ilmu-ilmi itu
Jadilah kau pemberani
Dengan Taqribnya (pendekatan) Abi Syuja’ (bapak para pemberani).

Karena padat dan pentingnya isi kitab ini, para imam berpacu mensyarahi, mengomentari, memberi catatan kaki serta merumuskanya dalam bait-bait nazam. Di antaranya syarah-syarah tersebut ialah:
Kifayah al-Akhyar fi Syarh al-Ikhtisar, karya Imam Taqiyuddin bin Muhammad al-Husaini al-Hishni ad-Dimasyqi, w. 829 H. kitab ini sebanyak dua jilid.
al-Iqna’ fi Hall Alfazh Abi Syuja’, karya al-Khatib al-Syarbini.
Fath al-Qarib al-Mujib fi syarh at-Taqrib atau al-Qaul al-Mukhtar fi syarh Ghayat al-Ikhtishar, karya Abu Abdillah Muhammad bin Qasim al-Gazzi, w. 918 H. Dan masih banyak lainnya.

(Ditulis kembali dari Buku: Guruku Dipesantren karya LPSI Pondok Pesantren Sidogiri. Diterbitkan pada tahun 1420 H)

http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/doc/290690097620472/

Posted from WordPress for BlackBerry.


Meninggalkan komentar

Thariqat Membebaskan Orientasi Materialisme

 

Prof. Dr. Mulyadi Kertanegara -Direktur di Center for Islamic Philosophical Studies and Information (CIPSI)
Adalah manusia, diantara makhluk Allah yang lain, yang secara tegas dikatakan oleh-Nya meski merupakan

 

puncak ciptaan-Nya, manusia diperingatkan untuk terus berjuang meningkatkan kwalitas kemanusiaannya demi tercapainya kesempurnaan diri yang lebih utuh. Jasad, akal dan hati yang menjadi komponen kontruks perkembangan manusia menuju kwalitas diri yang lebih berarti.Karenanya dalam realitas sosial, kehidupan manusia tak dapat dicakupi oleh politik dan filsafat semata, apapun jenis aliran politik dan filsafat itu. Kenapa demikian? Karena filsafat dan politik itu berpijak pada suatu pengertian tentang hidup, dan ia bukan hidup itu sendiri. Esensi hidup itu tidak dapat tertuang dalam bentuk kata atau pengertian belaka. Ia hanya dapat dipahami dalam “rasa”. Maka jika konsep realitas kehidupan didasarkan pada filsafat dan dalam berpolitik kita mengklaim kebenaran yang mutlak, sebenarnya kita tengah berada pada keangkuhan hidup. Untuk itulah, walau manusia modern telah banyak memiliki disiplin ilmu (seperti psikologi, sosiologi, biologi, antropologi, teologi, ekonomi, politik dan lain sebagainya) yang menjadikan manusia sebagai objek kajian materialnya, masing-masing diffrensiasi metodologis setiap ilmu itu akan melahirkan kesimpulan yang berbeda tentang siapa dan apa hakikat manusia.

Telah lama Al-Qur’an mengkritik pemikiran yang dangkal tentang manusia. Dalam Al-Qur’an manusia tidak cuma harus dimanusiakan, seperti yang dianut paham humanisme renaisance. Lebih dari itu, kecuali sebagai “ahli waris kebudayaan dunia”, manusia adalah wakil Tuhan dimuka bumi untuk melaksanakan “blueprint”-Nya di muka bumi. Malah dalam paradigma sufisme, manusia sengaja diciptakan Tuhan hanya karena Tuhan akan melihat dan menampakkan kebesaran diri-Nya dihadapan makhluk-makhluk Nya. Lalu, apa dan bagaimana pandangan Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara tentang manusia dan sepak terjang kebebasan yang Allah berikan padanya. Bagaimana pula pandangan sufismenya mengenai manusia. Benarkah manusia moderen dikampung global dunia kini membutuhkan tasawuf.

Wajibkah seseorang bertarekat dan bermursyid? Tafsir apa yang dimilikinya terhadap ungkapan popular “hendaknya Anda dengan mursyid seperti mayat ditangan yang memandikannya.”? Apa penuturannya tentang tarian, putaran dan lompatan yang benar-benar nyufi dan sok nyufi ? Berikut penuturan Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, pengamal tarekat beraliran Naqshabandi yang kini aktif sebagai Direktur di Center for Islamic Philosophical Studies and Information (CIPSI), seputar Manusia dan Dunia Sufi bersama Cahaya Sufi dalam kesempatan acara keluarga di Padepokan “Gawe Rahayu” milik salah seorang keturunan Syeikh Panjalu dibilangan Kembangan Utara Jakarta Barat beberapa waktu lalu.

Membaca sebagian besar karya-karya Anda, sepertinya Anda bersemangat sekali mengarahkan masyarakat untuk lebih dekat kepada Tuhan, menjadikan-Nya sebagai “Asal Sejati” dan “Tujuan Akhir”. Dalam pandangan Anda, apa yang sedang terjadi pada masyarakat kita ?
Seluruh umat manusia dan semua bangsa, di dunia, termasuk Indonesia, tengah hanyut dalam faham materialisme yang berkeyakinan bahwa semua realitas adalah materi. Termasuk manusia, dalam faham ini hanya dilihat dari sudut materi (fisik) nya saja. Maka kemudian penampilan fisik, dan semua yang berkaitan dengan fisik, menjadi sesuatu yang dipuja-puja oleh masyarakat moderen. Mereka melupakan fakta bahwa sesungguhnya manusia juga memiliki aspek (dimensi) spiritual. Manusia adalah makhluk dua dimensional; makhluk fisik tapi sekaligus juga makhluk spiritual.


Berkaitan dengan ini, saya mengutip penjelasan Ali Syari’ati, seorang sosiolog modern Islam, yang pernah mengenyam pendidikan di Perancis. Dia berpandangan bahwa manusia itu terbuat dari benda yang sebenarnya sangat hina, yakni tanah bahkan Lumpur. Tetapi dalam lumpur itu kemudian Allah meniupkan ruh. Wanafakhtu min ruuhiy, kata Allah. Lalu jadilah manusia sebagai makhluk yang memiliki dua dimensi. Di satu fihak dia adalah makhluk tanah atau Lumpur yang hina dan rendah, dan kita dapat melihat manusia memiliki kecenderungan senang kepada hal-hal yang rendah dan hina. Tetapi dipihak lain manusia juga mendapatkan tiupan ruh dari Allah, sesuatu yang teramat luhur dan mulia, dan dapat kita perhatikan manusia memiliki kecenderungan pada nilai-nilai luhur dan mulia yang bersifat ilihiah. Dari sini muncul manusia-manusia tertentu yang memiliki apresiasi yang sangat tinggi kepada spiritualitas. Mereka adalah para sufi, tokoh tasawuf, yang mengembangkan dimensi spiritualitas Islam.Apa lagi ?
Oleh Allah manusia di dudukkan pada kedudukan yang sangat tinggi, yakni sebagai khalifah Allah, Wakil Allah di muka bumi. Dan tak ada satu faham filsafat atau aliran politik tertentu, termasuk humanisme renaissance, yang memberi kedudukan tertinggi macam ini kepada manusia. Dalam faham humanisme renaissance, manusia di istimewakan hanya pada lingkup bumi yang jika dibandingkan dengan kebesaran planet-planet lainnya besar bumi tidaklah seberapa. Dengan menyandang predikat Wakil Raja Diraja, manusia mestinya menjaga amanah kedudukan itu dengan sebaik-baiknya.

Tapi kenapa harus ada komplain dari para malaikat terhadap kalam kekhalifahan manusia ?
Ya, Allah punya mau yang tidak dipahami para malaikat. Inniiya a’lamu maa laa ta’lamuun. “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang kalian belum ketahui,” kata Allah kepada para malaikat.

Riil nya seperti apa ?
Dalam drama singkat berikutnya, sesudah itu kan Allah mengajari Adam a.s. tentang nama-nama sesuatu yang ada saat itu, yang pada gilirannya nanti menjadi prototype dari sain (ilmu pengetahuan; red). Ini yang kemudian membuat anak-cucu Adam a.s. memiliki potensi untuk mengembangkan sain. Inilah keunggulan pertama yang dimiliki manusia, bekal kemampuan mengembangkan sain.

Keunggulan lainnya ?
Selain menyandang khalifatullah, manusia juga sebagai pengemban amanat. Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.” (Q.S. Al-Ahzab (33):72;red). Manusia menerima amanat Allah walaupun kemudian manusia sering melakukan kebodohan.

Artinya ?
Ketika itu manusia diberi kebebasan oleh Allah; bebas untuk menentukan pilihan-pilihan. Dan kebebasan ini sangat penting sekali bagi manusia sebab untuk membedakan manusia dan makhluk lainnya terletak pada kebebasan yang demikian ini. Coba Anda lihat meja. Meja, sejak awal penciptaannya ya seperti yang Anda lihat sekarang, ia statis. Berbeda dengan manusia, Manusia oleh Tuhan diberi kebebasan, boleh beriman atau kufur terhadap keberadaan-Nya. Tubuh manusia pasti membutuhkan makan. Pada saat lapar melilit, Tuhan memberinya kebebasan untuk makan atau tidak, dan ini tidak pernah dilakukan oleh makhluk lain selain manusia. Jadi, inilah dua rahasia kenapa Allah menciptakan manusia sebagai khalifah-Nya; pengetahuan dan kebebasan memilih. Dua hal ini terkait erat dengan proses penyempurnaan diri. Kembali kepada tiupan ruh oleh Allah.

Apa karena itu yang membuat seseorang pada saat-saat tertentu mengalami kerinduan kepada Allah ?
Harusnya sich tidak di saat-saat tertentu saja kerinduan itu muncul.


Kenapa?
Manusia itu sesungguhnya memiliki dua rumah. Pertama adalah rumah jasadnya, dalam bentuk dunia ini. Kedua adalah rumah ruhnya, yaitu alam tinggi. Oleh karena hakikat manusia terletak pada ruhnya, maka manusia merasakan keterasingan di dunia ini. Perasaan terasing inilah yang kemudian memicu sebuah “pencarian spiritual” (spiritual quest) dari seorang manusia, dan dengan itu pula ia memulai perjalanan spiritualnya menuju Tuhannya. Namun karena Tuhan sebagai “tujuan akhir perjalanan manusia” bersifat rohani, manusia harus berjuang menembus rintangan-rintangan materi agar ruhnya menjadi suci.

Karena itulah kita, setiap muslim, harus berthariqah atau bertarekat?
Istilah tarekat bisa dipahami dalam dua pengertian: Pertama, tarekat dalam pengertian jalan spiritual menuju Tuhan, dan ini meliputi metode sufistik dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Kedua, dalam pengertian, persaudaraan suci di mana berkumpul sejumlah murid dan seorang mursyid, yang dibantu oleh para wakil mursyid. Nah, berkaitan dengan pembicaraan kita sebelumnya, tarekat dalam pengertian pertama ini yang perlu kita fahami dari perspektif etimologinya terlebih dahulu. Tarekat yang berasal dari kata thariqah artinya adalah jalan kecil (path), dan dalam konteks Timur Tengah berarti jalan setapak menuju waadi (oase). Terkadang jalan kecil tersebut tertutup oleh pasir yang terbawa angin padang pasir yang bertiup kencang. Untuk mengenali jalan kecil tersebut diperlukan pengetahuan yang detil terhadap tempat tersebut, sehingga kita masih dapat mengenal jalan menuju oase itu meski sama sekali telah tertimbun oleh pasir. Dari sini dapat kita fahami bahwa jalan spiritual menuju Tuhan yang kita sebut dengan tarekat ini, tidak mudah kita kenal seperti mudahnya kita mengenal jalan raya yang bernama syari’ah. Itulah sebabnya banyak orang yang tidak bisa melihat melihat adanya jalan tersebut dan menganggap tarekat sebagai sesuatu yang tidak berguna, dibanding jalan raya yang mudah dikenal (fiqh; red). Nah, untuk menjawab perasaan terasing yang memicu sebuah “pencarian spiritual” (spiritual quest) dari seorang manusia, ia membutuhkan tarekat sebagai jalan spiritualnya menuju Tuhannya.

Apa yang menyebabkan seseorang tidak dapat melihat tarekat sebagai jalan kecil menuju oase ?
Umumnya mereka yang sudah tercebur dalam pola pikir materialisme yang membuat tumpul indra dan akalnya. Bagi orang yang tidak mampu melihat jalan tersebut dengan indra dan akalnya (karena memang tidak bisa dilihat semata-mata dengan mata lahir), mereka akan beranggapan bahwa orang-orang yang sedang meniti jalan kecil yang tertutup pasir itu adalah orang gila yang sedang mengikuti halusinasi atau ilusi dan tersesat, sehingga tidak pernah sampai pada tujuan.

Itu sebabnya para sufi menawarkan berbagai cara dalam menggambarkan pengalaman dijalan kecil, jalan spiritual menuju Tuhan ?
Tepat sekali. Sebagian sufi ada yang menggambarkannya dengan istilah maqamat atau stasiun-stasiun, yaitu fase-fase atau babak-babak, dari titik awal sampai titik akhirnya. Ibarat seseorang yang sedang melakukan perjalanan menuju sebuah kota, mereka harus melewati berbagai stasiun dengan tanda-tandanya yang harus mereka kenali, dan mengetahui juga di mana posisi mereka saat ini. Dengan demikian seseorang dapat mengevaluasi kemajuan yang diraih dalam perjalanan tersebut. Ada juga sufi yang menggambarkan perjalanan spiritual secara tidak langsung dengan menyebutkan maqamat secara formal dan tegas, tetapi menggambarkannya secara simbolis, berupa novel spiritual, atau perumpamaan atau dengan deskripsi prosa yang tidak dengan spesifik menamakan tahap-tahap perjalanan mereka, seperti Farid al-Din ‘Aththar, dengan bukunya Mantiq al-Thayr, Ibn ‘Arabi dalam bukunya Risalat al-Anwar dan Jalal al-Din Rumi, terutama dalam al-Matsnawi.

Oleh karena jalan ruhaniah yang dilalui setiap penempuh dunia ruhani adalah jalan kecil yang tertutup pasir maka perlu kehadiran seorang mursyid untuk mendampingi ?
Mursyid artinya penunjuk jalan, yaitu penunjuk jalan bagi seorang yang sedang melakukan perjalanan spiritual. Tetapi karena sebagian besar manusia tidak mengetahui jalan tersebut, mursyid diperlukan bagi mereka yang hendak meniti jalan spiritual. Karena tanpa seorang mursyid, seseorang yang belum mengetahui jalan bisa saja, bahkan kemungkinan besar akan kesasar dan tidak pernah mencapai tujuannya. Oleh karena itu, kehadiran seorang mursyid sangat diperlukan kalau ia ingin betul-betul sampai ke tempat tujuan. Lebih lagi, kalau kita menyadari bahwa perjalanan spiritual bukanlah perjalanan yang mudah tapi perjalanan yang panjang, terjal dan berliku-liku yang sangat membutuhkan orientasi yang sangat jelas, determinasi yang membaja dan bimbingan serta nasihat yang senantiasa diperlukan seorang untuk meneruskan perjalanan spiritualnya sehingga sampai ke tempat tujuan.

Menyoal mursyid, ada ungkapan popular, “hendaknya Anda dengan mursyid seperti mayat ditangan yang memandikannya.” Bisa Anda jelaskan ?
Ungkapan tersebut telah menimbulkan penafsiran yang ekstrim, di mana sebagai mayat kita tidak boleh mempertanyakan otoritas, wewenang sang mursyid, bahkan seolah-olah kita tidak boleh menanyakan sesuatu apa pun dan memasrahkan semuanya kepada sang mursyid. Nah penafsiran macam ini dapat menyesatkan, sekaligus menimbulkan image negatif terhadap tasawuf.


Tafsiran yang benar seperti apa?
Sang salik-lah yang harus berjuang untuk mengambil tindakan seperti yang ditunjukkan oleh sang mursyid. Tetapi sebagai pihak yang “ditunjukkan”, kita harus yakin bahwa mursyid kita memang benar-benar telah mengetahui tujuan perjalanan ini, dan itu harus di yakini sebelum kita melakukan perjalanan atau ketika kita telah memutuskan untuk mengambil atau mengangkat orang itu sebagai mursyid kita. Kita tidak boleh meragukan otoritasnya, oleh karena itu, tidak boleh mempertanyakan apakah jalan yang ditempuhnya itu memang benar atau salah, atau bertanya padanya, apakah ada jalan (thariqah; red) lain menuju yang “dituju” selain yang tengah ditempuhnya. Begitu sebenarnya tafsir atas ungkapan popular yang anda tanyakan.

Jadi, seorang murid harus yaqin lebih dulu kepada mursyid dan jalan (thariqah;red) yang dipilihnya ?
Karena Dunia Sufi pada hakikatnya tidak bisa dipelajari lewat buku, maka latihan spiritual berupa dzikr, atau sama’, adalah cara yang efektif untuk memahaminya lewat pengalaman batin. Para mursyid umumnya mengajak murid-muridnya untuk melakukan perjalanan spiritual bersama melalui zikir menuju Tuhan, dengan metode seperti yang dialami dan dikuasai oleh sang mursyid sendiri. Mereka tidak mengajar murid-muridnya tentang ajaran para sufi. Karena itu, yang pertama dan utama yang harus dimiliki seorang murid adalah keyakinan kepada mursyid dan jalan yang dipilihnya. Dalam proses bimbingan, sang murid tidak boleh protes atau membangkang. Apalagi sampai melirik atau menclok jalan (thariqah; red) sana-sini. Silakan saja lirik dan menclok sana-sini, tetapi sang mursyid tidak bertanggungjawab atas kegagalan sang murid dalam menempuh perjalanan spiritual. Jangan berharap sukses kalau sang murid masih meragukan otoritas jalan (thariqah) dan mursyid yang dipilihnya.

Tadi, Anda menyinggung soal dzikir. Bisa Anda jelaskan posisi dzikir dalam tarekat ?
Secara sederhana dzikir artinya mengingat (recollection). Yang dimaksud dzikir disini adalah mengingat Allah, Tuhan pencipta alam. Umumnya dzikir dihubungkan dengan menyebut-nyebut nama Allah. Tapi, dalam artian umum, dzikir berarti tindakan atau perbuatan apapun yang bisa mengingatkan kita kepada sang Pencipta. Dan berkaitan dengan tarekat, dzikir biasanya dipahami sebagai melafalkan ungkapan (formula) tertentu. Dan yang paling popular diantra formula-formula tersebut adalah kalimat laa ilaaha illallaah, yang disandarkan pada hadits Nabi Saw, “Afdhaludz dzikri fa’lam annahu laa ilaaha illallaah,” yang artinya kurang lebih, “Ketahuilah, seutama-utama dzikir adalah kalimat laa ilaaha illallaah.” Fungsi dzikir tentunya harus cocok dengan tujuan dari kegiatan tarekat itu sendiri, yakni mendekatkan diri kepada Allah. Dan dzikir memang dapat melakukan fungsi tersebut dengan baik. Betapa tidak, dalam keadaan betul-betul khusyuk, ungkapan laa ilaaha, bisa berarti penafian terhadap segala apa pun yang kita idolakan, yang menjadi obsesi kita selain Allah, bisa dalam bentuk berhala-berhala diri, seperti egoisme, kekayaan, kedudukan, wanita dan lain sebagainya. Penafian ini penting untuk kita upayakan, mengingat diri kita ini telah lama memiliki begitu banyak belenggu atau pemikat yang bersifat duniawi. Belenggu-belenggu ini telah lama membebani mental kita, sehingga sering menjadi sumber stress, depresi, dan tentunya penghalang yang paling efektif untuk menjauhkan diri kita dari Tuhan. Fenomena ini tengah menggejala di masyakat kita sekarang.

Bagaimana penjelasan kalimat “illallaah” ?
Dzikir “illallaah” yang berarti “hanya Allah-lah satu-satunya yang ada” jika diintensifkan maka sang pengamal tarekat akan merasakan kehadiran Allah dalam hatinya. Perasaan dekat dengan Allah, yang menjadi tujuan utamanya selama ini, jika dilakukan penuh dengan disiplin, akan tercapai. Bahkan dalam intensitasnya yang tinggi, seorang sufi dapat merasakan bukan hanya dekat dengan Allah, tetapi bahkan merasa bersatu dengan-Nya. Dzikir yang dilakukan dengan baik dan khusyuk, akan dapat mengobati “kerancuan mental”. Dan salik, setahap demi setahap akan mampu melepaskan diri dari belenggu-belenggu yang membebani mental. Dengan berkurangnya beban setelah melakukan dzikir, maka keadaan jiwa dapat lebih ringan dan seimbang.

Selain dzikir, Anda juga menyebut istilah sama’. Bisa Anda jelaskan ?
Sama’ dalam literatur tasawuf adalah musik dan nyanyian dalam dzikir. Ia (sama'; red) memainkan peranan besar dalam praktek bertasawuf, meski dalam sistem peribadatan formal Islam ia tidak mempunyai tempat yang riil.

Dimana letak peran besarnya?
Sama’ disamping memiliki daya mistik untuk memperdalam perasaan, tetapi juga, ketika dikoordinasikan dengan dengan kata-kata simbolis dan gerakan-gerakan berirama, ia memiliki kekuatan atas kemauan manusia. Menurut Ahmad al-Ghazali (bukan Imam al-Ghazali penulis kitab ihya ulumiddiin; red), sama’ meliputi tiga tekhnik fisik: menari, berputar dan melompat, dan masing-masing gerakan tersebut memiliki fungsi sebagai simbol dari realitas spiritual. Simbol dari realitas spiritual.

Jadi, bukan sekedar untuk kepentingan keindahan panggung, atau sebagai asesori lagu-lagu rohani, target pasar blantika musik atau rating pemirsa ?
O, tidak. Masih mengutip al-Ghazali, tarian yang menjadi bagian dari sama’ merujuk kepada perputaran ruh (jiwa) di seputar lingkaran benda-benda yang ada ketika menerima pengaruh dari mukasyafah dan ini bentuk hal dari seorang ‘arif. Gerak putar merujuk kepada berdirinya sang ruh (jiwa) dengan Allah dalam kerahasiaan dan wujudnya. Pada saat yang sama, raut wajah dan pikiran menembus pada maqamat-maqamat spiritualitas dan ini adalah bentuk hal dari orang yang mencapai kepastian atau keyakinan. Sedangkan meloncat merujuk pada keadaan dirinya yang tertarik dari maqam manusia ke maqam persatuan (unitive station).

Letak perbedaan lainnya dimana antara tarian, putaran, lompatan yang “kering” dan yang “basah”? Y
ang Anda istilahkan “kering” pasti tidak memiliki keterkaitan dengan sama’. Sedangkan tarian, putaran dan loncatan yang Anda istilahkan dengan “basah” terkait dengan sama’, meliputi kegiatan mengajar. Jamaah berkumpul dipagi hari usai shalat subuh, atau setelah shalat isya. Selepas wirid formal (masih dalam keadaan duduk), seseorang dengan suara yang paling lembut membaca bagian tertentu dari Alquran. Kemudian sang syeikh mendiskusikan makna ayat-ayat tersebut dengan pengertian yang sesuai dengan maqam para murid-nya. Setelah pengajaran selesai, maka seorang qawwal atau penyanyi mulai menyanyikan puisi-puisi sufi untuk membawa mereka ke ekstasi. Ketika mereka mengalami sebuah daya yang mendorong jiwa mereka seperti mendapat undangan untuk melayani Sang Raja, disanalah tarian, putaran dan loncatan berlangsung. Semua itu tak akan berlangsung sebelum seseorang mengalami ekstasi. Ketika jiwa-jiwa mereka menerima pemahaman mitis dari keadaan-keadaan yang ghaib, dan hati mereka dilembutkan oleh cahaya-cahaya esensi ilahi dan telah dikukukahkan dalam kesucian dan cahaya spiritual, maka mereka duduk, dan penyanyi yang membawakan nyanyian cahaya membawa mereka setahap demi setahap dari yang batin kepada yang lahir.

Kemudian, ketika mereka berhenti, seseorang, selain qawwal, membawakan bagian dari tembang yang ada. Setelah itu mereka bangkit dari tempat tersebut dan pulang ke kediaman masing-masing. Disitu mereka duduk sejenak untuk merenungkan penyingkapan-penyingkapan yang muncul saat mengalami ekstasi. Dan sebagian mereka ada yang berpuasa beberapa hari untuk memberi makan bagi jiwa dan hati mereka agar lebih siap menerima datangnya waaridaat.

Ah, sebuah perjalanan….. Saya kira, spiritualitas itu, sejauh manusia menyadari bahwa dirinya terdiri dari dua dimensi, dia (tasawuf) tidak akan punah.

Read 2808 times Last modified on Monday, 08 December 2014 09:51

http://www.sufinews.com/index.php/mutiara/oase/wawancara/item/589-thariqat-membebaskan-orientasi-materialisme

 


Meninggalkan komentar

Sahabat Ali pernah ‘iseng’ ke Rasulullah

Sahabat Ali pernah ‘iseng’ ke Rasulullah dengan memindahkan biji kurma bekas miliknya ke tempat biji kurma Rasul. Namun Rasul menjawabnya dengan canda.

Dream – Suatu ketika, Rasulullah SAW bersama para sahabat sedang berbuka puasa. Buah kurma terhidang di depan mereka. Setiap kali mereka makan kurma, biji- biji sisanya mereka sisihkan di tempatnya masing- masing.

Beberapa saat kemudian, Ali menyadari bahwa dia memakan cukup banyak kurma. Jelas saja, biji-biji kurma yang ada di tempatnya menumpuk lebih banyak di bandingkan sahabat yang lain.

Muncul keisengan Sahabat Ali. Diam-diam dia memindahkan biji kurma miliknya ke tempat biji kurma milik Rasul. Saat semua biji kurma sudah berpindah tempat, Ali menggoda Rasul.

“Wahai Nabi tampaknya engkau begitu lapar. Sehingga makan kurma begitu banyak. Lihat biji kurma di tempatmu menumpuk begitu banyak.”

Bukannya terkejut atau marah, sambil tersenyum Nabi membalas keisengan Ali. “Ali, tampaknya kamulah yang sangat lapar. Sehingga engkau makan berikut biji kurmanya. Lihatlah, tak ada biji tersisa di depanmu.”

Sumber : HR. Bukhori


Meninggalkan komentar

Cara Bercanda Rasulullah dengan Aisyah, Istrinya

Rasulullah Muhammad SAW pernah dikalahkan Aisyah dalam sebuah lomba lari. Dan Beliau membalasnya beberapa tahun kemudian.

Dream – Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bersama sahabat sedang dalam perjalanan, ditemani Aisyah Radhiyallahu Anha, istri Nabi. Saat itu Aisyah masih bertubuh kurus.

Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya untuk mempersilahkan mereka berjalan lebih dulu. Kemudian Rasulullah berkata kepada Aisyah, “Ayo kemarilah. Kuajak engkau adu cepat lari.” Aisyah dengan gesit lari dan berhasil mengalahkan Nabi.

Waktu terus berlalu. Beberapa tahun kemudian Aisyah kembali menemani Beliau dalam sebuah perjalanan. Beliau kembali mempersilahkan para sahabatnya untuk berjalan lebih dulu. Lalu beliau berkata kepada Aisyah, “Ayo kemarilah! Kuajak engkau adu cepat lari.”

Aisyah tersenyum. Sebab saat itu tubuhnya sudah mulai gemuk. Aisyah bertanya, “Bagaimana aku bisa beradu cepat denganmu ya Rasulullah sedangkan badanku begini?”

Rasulullah bersabda, “Ayo lakukanlah!”

Lalu Aisyah berusaha lomba lari dengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Saat itu Nabi berhasil mendahului Aisyah. Beliau pun tertawa riang dan berkata, “Sekarang aku telah mampu mengalahkanmu.”

Begitulah salah satu cara Nabi menjaga romantisme dengan istri dalam berkeluarga.

Sumber : H.R Ahmad


Meninggalkan komentar

Murid Yang Shiddiq

ka’bah ada yang mengumpamakan Mursyid seperti ka’bah yang selalu dikeliling oleh murid-muridnya untuk mendapatkan berkah. Ka’bah secara fisik adalah Baitullah (rumah Allah), sementara Qalbu orang mukmin termasuk qalbu Guru Mursyid juga sebagai Baitullah atau rumah Allah, itulah persamaannya. Hanya beberapa orang, mungkin 10 atau 20 orang yang mendapat kesempatan untuk bisa masuk ke dalam ka’bah, hanya Raja atau Presiden Negara Islam dan orang-orang tertentu yang

di izinkan masuk langsung ke dalam ka’bah sementara jutaan orang hanya mendapat kesempatan untuk berkeliling ka’bah dan milyaran orang hanya sekedar mampu menghadapkan wajah kesana. Begitu juga dengan Guru Mursyid, dari sekian banyak orang yang mengaku sebagai murid, hanya hitungan jari yang bisa masuk ke dalam diri Mursyid, menjadi murid pilihan, memahami, mencintai dan mengasihi Guru Mursyidnya melebihi dirinya sendiri. Murid yang telah mencapai tahap ini disebut dengan murid Siddiq. Murid Siddiq bisa diartikan sebagai murid yang benar-benar menjalankan segala perintah dan meninggalkan segala larangan Gurunya, memberikan pengabdian terbaik sehingga menjadi orang pilihan, dekat dengan Guru secara zahir dan bathin. Dekat secara zahir, setiap saat selalu melayani Guru ketika menjadi murid langsung, dan mengatur waktu berziarah secara berkala ketika secara zahir jauh dari Gurunya. Secara bathin, senantiasa menjaga zikir agar kontak rohani dengan Guru senantiasa terjalin, sehingga hubungan tetap terjalin. Seorang Guru Mursyid sendiri merupakan Murid yang siddiq dari Gurunya, telah melewati ujian dan cobaan sehingga mampu mencapai tahap rohani tinggi untuk membimbing orang lain menuju kehadirat Allah SWT sebagaimana yang di lakukan oleh Gurunya. Murid Siddiq tidak lagi memperdulikan kebutuhan pribadinya, segala fikiran dan tenaga diberikan untuk kebahagiaan dan kesejahteraan Guru, sebagaimana akhlak para sahabat terhadap Nabi SAW. Kebalikan dari murid siddiq adalah murid asal-asalan, murid jadi-jadian atau dalam istilah Guru saya disebut dengan murid2-an, sering Beliau ucapkan sebagai “Murit-muritan”. Murit-muritan ini hanya hubungan telah mengambil amalan dzikir saja dari Guru, selebihnya berbuat sesuka hatinya. Menekuni tarekat bukan niat karena Allah tapi karena tujuan duniawi, bisa karena ingin kaya, ingin terkenal, keramat dan lain sebagainya. Murid jenis ini (murid2an), biasanya tidak akan bertahan lama, ketika masalah menimpa hidup sebagai bagian ujian yang harus dilewati oleh seorang murid, maka murid jenis ini akan hilang, seperti debu dibawa angin. Berguru hanya ingin mendapat keuntungan duniawi semata. Murid jenis ini juga tergolong sebagai pucuk tebu yang kemana angin bertiup maka kesitu dia melangkah, tanpa pendirian kuat, ini yang disebut oleh guru sebagai rahasia Ilmu Tebu. Ribuan bahkan jutaan orang mengaku sebagai murid seorang Wali Allah, murid dari Guru Mursyid, namun dari sekian banyak tersebut, hanya berada pada lingkaran luar, mengelilingi untuk mengambil berkah, atau hanya menghadapkan wajah kesana, hanya sedikit yang benar-benar larut dalam samudera Maha Luas, masuk ke dalam ilmu tanpa batas dari Guru Mursyid, menyatu tanpa bercerai, selalu bergayut di Jubahnya, membungkuk di bendul pintunya dan setia selamanya dari hayat hingga akhir kalam. Semoga kita termasuk salah seorang dari murid Siqqiq dari Guru Mursyid kita, amin ya Rabbal ‘Alamin!


Meninggalkan komentar

QASIDAH CINTA PARA PECINTA

Dikisahkan bahwa Nabi Dawud a.s. diperintahkan oleh Allah SWT untuk menemui 14 orang suci di Gunung Libanon. Mereka adalah para pencinta Allah sejati. Mereka terdiri dari anak muda, orang setengah baya dan orang tua. Nabi Dawud diutus untuk memberi kabar gembira kepada mereka.

“Kalau sudah sampai disana, sampaikan salam-Ku kepada mereka, ‘Tuhan kalian mengucapkan salam untuk kalian.’ Katakan juga pesan-Ku, ‘Apakah kalian tidak meminta sesuatu? Kalian adalah para pecinta-Ku, para sahabat-Ku, dan para kekesih-Ku. Aku senang jika kalian senang. Aku pun segera mencintai kalian!”

Nabi Dawud a.s. pun datang menemui mereka. Beliau menyaksikan sendiri apa yang terjadi pada mereka saat berjumpa. Setiap mata mereka terlihat larut dalam perenungan tentang kebesaran Allah Azza wa Jalla. Tapi, begitu melihat ada yang datang, mereka bangkit hendak meninggalkan Nabi Dawud. Maka, beliau langsung berkata, “Aku adalah utusan Allah untuk kalian. Aku datang untuk menyampaikan risalah Rabb kalian.”

Mereka lalu menghampirinya, mengarahkan pendengaran kepadanya, dan menurunkan pandangan ke bumi. Nabi Dawud pun bersabda, “Aku utusan Allah untuk kalian. Dia menitipkan salam untuk kalian dan menanyakanm ‘Apakah kalian tidak meminta sesuatu yang kalian butuhkan? Apakah kalian tidak meminta kepada-Ku? Aku pasti mendengarkan suara dan ucapan kalian, karena kalian adalah para pecinta-Ku, para sahabat-Ku, dan para kekasih-Ku. Aku senang jika kalian senang. Aku pun segera mencintai kalian. Setiap saat aku memperhatikan kalian, perhatian-Ku persis seperti perhatian seorang ibu yang penuh kelembutan pada anaknya.”

Mendengar hal tersebut, bulir-bulir airmata mengalir deras di pipi mereka. Salah seorang dari mereka yang telah berusia tua berkata: “Mahasuci Engkau! Mahasuci Engkau! Kami ini hanyalah hamba-Mu yang kecil dari keturunan hamba-Mu yang juga kecil. Ampunilah kami. Kami lalui umur kami dengan hati mengingat-Mu tak henti-hentinya.”

“Mahasuci Engkau! Mahasuci Engkau! Kami ini hanyalah hamba-Mu yang kecil dari keturunan hamba-Mu yang juga kecil. Apakah kami harus lancang berdoa, sementara Engkau tahu kami sama sekali tidak memerlukan apa-apa. Abadikan kami untuk menapaki jalan menuju kepada-Mu dan sempurnakanlah karunia itu kepada kami,” ucap salah seorang dari mereka.

“Kami begitu kerdil untuk mencari ridha-Mu. Maka, berikanlah pertolongan kepada kami dengan kemurahan-Mu,” ucap yang lain lagi.

“Dari air mani Engkau ciptakan kami. Engkau beri kami anugerah berpikir tentang kebesaran-Mu. Apakah orang yang sibuk dengan kebesaran-Mu dan berpikir tentang keagungan-Mu masih bisa lancang berbicara? Bukankah Engkau meminta kami untuk mendekati cahaya-Mu?” sahut yang lain.

“Lidah kami kelu untuk berdoa kepada-Mu, lantaran keagungan dan kedekatan-Mu pada para kekasih-Mu, karena begitu melimpah karunia-Mu kepada para pecinta-Mu,” kata yang lainnya lagi.

“Engkaulah yang telah menunjukkan hati kami untuk selalu mengingat-Mu. Engkau telah meluangkan waktu kami untuk menyibukkan diri bersama-Mu. Karena itu, ampunilah kami yang tak pandai bersyukur kepada-Mu.”

“Sungguh, Engkau telah mengetahui apa yang kami butuhkan. Kebutuhan itu tak lain hanyalah memandang wajah-Mu.”

“Bagaimana mungkin seorang budak dapat berbuat lancang kepada Tuannya? Tapi, jika Engkau perintahkan kami untuk berdoa, maka dengan kemurahan-Mu berilah kami cahaya dari lapisan-lapisan langit,” kata yang lainnya lagi.

“Kami mohon kepada-Mu sempurnakanlah nikmat-nikmat-Mu. Nikmat-nikmat yang telah Engkau limpahkan kepada kami dan telah Engkau utamakan kami dengan nikmat-nikmat itu.”

“Kami tidak memerlukan apa pun dari makhluk-Mu. Berikanlah anugerah memandang keindahan wajah-Mu.”

“Aku memohon kepada-Mu, butakanlah mata kami untuk memandang dunia dan penghuninya. Butakan juga hati kami untuk menyibukkan diri dengan akhirat. Sungguh, aku tahu Engau Mahabaik dan Mahatinggi. Engkau mencintai para kekasih-Ku. Maka, berilah kami anugerah untuk menyibukkan hati kami dengan Engkau semata dan tak sedikit pun disibukkan oleh selain Engkau.”

Kemudian Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud a.s. “Katakan kepada mereka, ‘Aku sudah mendengar apa yang kalian ucapkan. Aku telah mengabulkan semua yang kalian inginkan. Sekarang, tinggalkan kawan kalian! Menyendirilah! Sebab, Aku akan menyingkapkan tirai antara Aku dengan kalian sehingga kalian dapat memandang cahaya dan keagungan-Ku.”
–Imam Al-Ghazali dalam kitab Al-Mahabbah wa asy-syauq wa al-uns wa ar-ridha

Posted from WordPress for BlackBerry.


Meninggalkan komentar

Status Nasehat

Berbeda sikap, untuk diri sendiri dan orang lain

Melihat orang dapat musibah, yg kita ingat adalah sabda Nabi,
وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ
“Sungguh jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)

Sedangkan ketika diri sendiri sedang dapat musibah, ingatnya firman Allah,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Musibah apa saja yang menimpamu, disebabkan perbuatan tangan kalian sendiri” (QS. Asy Syura : 30)

Sehingga kita berbaik sangka terhadap orang yg dapat musibah bahwa org tersebut dicintai Allah, bukan buruk sangka dan berpikir org tersebut banyak dosanya. Namun jika kita mendapat musibah, maka yg diingat, kesalahan kita banyak, lalu berusaha memperbaiki diri

Pun ketika memberikan sesuatu, yg kita ingat firman Allah,
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih” (QS. Al Insaan : 9)

Namun ketika mendapat pemberian, ingat pesan Nabi,
لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ
“Orang yang tidak tahu terima kasih kpd orang lain, tidak akan bersyukur kepada Allah” (HR. Abu Dawud, juga Tirmidzi)

Sehingga tidak mengharap terima kasih ketika memberi, namun selalu berterima kasih ketika diberi.

Ustadz Yananto Sulaimansyah

Posted from WordPress for BlackBerry.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.